Nonton Opera Jawa

Film No Comments »

Taipei Golden Horse Film Festival 2006 (TGHFF) yang berlangsung tanggal 10-24 November menyajikan film-film internasional bermutu karya para sutradara yang tentunya juga berkualitas di bidangnya. Program ini merupakan salah satu rangkaian dari Taiwan International Film & TV Expo (TIFTE) 2006 selain Golden Horse Awards (Penghargaan perfilman Mandarin) dan 51st Asia-Pacific Film Festival (APFF). Pokoknya, tahun ini Taiwan benar-benar demam film deh. Semuanya dibabat habis di bulan November. Daku yang hanya sebagai penonton sebuah film (Opera Jawa itu) di Golden Horse Film, dan salah satu panitia anak bawang di APFF, serta tanpa sengaja melihat penyerahan Golden Horse Awards lewat TV saja sudah hampir ‘mabok’ . Semuanya berlangsung secara berurutan, tak terpikirkan olehku sebelumnya. Tahu-tahu, setelah dipikir setengah masak, kok aku bisa ya melibatkan diri ke arena tersebut. Padahal, aku bukan orang yang gemar film, apalagi penggemar artis-artisnya (kecuali Jet Li), apalagi pemerhati sutradara beken, dan apalagi-apalagi lainnya. Dari situ, mendadak pengetahuanku tentang dunia film sedikit bertambah (bener2 sedikit), tahu sedikit beberapa nama sutradara top,tahu sedikit (lebih dari sedikit sih) alur bagaimana sebuah acara bagi-bagi plakat itu berlangsung, yang terpenting lagi, tahu banyak bagaimana rasa capeknya menjadi ‘ganxie renyuan (anggota ucapan terima kasih)’…hehehe…

Oke..oke..back to subject. Nonton Opera Jawa. Apa yang mendasariku ingin nonton itu? Begini urutan peristiwanya: Teman sekamar daku memperkenalkan event TGHFF, kemudian memberikan buku saku panduan film-film itu sambil ‘mempromosikan’ beberapa film yang menurut mereka layak ditonton (contoh:Paris Je T’aime). Tiba-tiba aku melihat "Opera Jawa" di dalam buku saku itu. Ternyata hanya satu film Indonesia yang berpartisipasi, dan bisa ditebak sutradara filmnya siapa? iya..mas Garin Nugroho. Selain cukup antusias dengan namanya, alasan aku ingin menonton adalah bahwa aku ingin menyenangkan diri dengan melihat karya Indonesia, aku tak perlu repot-repot membaca dan mendengar bahasa Cina. Nah, kalau filmnya film Indonesia kan aku cukup mendengar bahasa ibu sendiri dan melihat akting mereka saja. Simple kan. But, lihat jadwal pemutarannya impossible to go, karena bentrok kuliah. Selang beberapa hari, buku saku itu kuperhatikan dengan cermat dan seksama, eh ternyata pemutarannya dua kali, Opera Jawa juga diputar hari Sabtu, yeah…weekend-an nonton film deh. Top! Tapi, ternyata tak ada teman yang ingin menonton film itu. Selain tiketnya mahal (bagi kami kaum pelajar yang sedang menipis uangnya), 200 NT, ada teman yang hari itu sudah ada kegiatan lain. Alamat nonton film sendiri lagi deh kayak waktu nonton Fearless dulu. Hihihi..sudah pengalaman nonton sendiri, jadi waktu beli tiket untuk daku sendiri yaa sudah cukup pede dan siap lahir batin, kalau ini bersiap-siap untuk tidak mampu memahami isi film karya mas Garin Nugroho yang jauh di luar jangkauan film-film normal lainnya hehehehe…

Tiket sudah di tangan. Opera Jawa diputar tanggal 11-11-2006, aku akan duduk di baris 17 kursi 11. Banyak angka 11-nya ya. Dua hari sebelum itu, ada Kak Joy ternyata mau ‘nemenin’ nonton. Hmm..senang tapi kalau ternyata tiketnya ngga ada yang duduk bersebelahan ya sama aja hiks..Akan tetapi, pas aku beli tiket untuknya, kursi sebelahku ternyata masih kosong, jadilah ku pesan tiket itu untuk Kak Joy. Mujur..Alhamdulillah. Di penghujung waktu, masih ada harapan untuk mewujudkan harapan.

Hari Sabtu, kami ke bioskop Shin Kong Cinema di Ximending (seluruh film TGHFF diputar di bioskop itu), Opera Jawa main pukul 14.50. Di Taiwan, daku sepertinya tak pernah ontime kalau datang ke acara nonton film. Fearless lalu, telat beberapa menit; Opera Jawa (OJ)telat 3 menitan, terakhir aku dan teman-teman nonton Jackie Chan (Baobei Jihua) juga telat beberapa menit. Ku pikir, sebelum tayang film OJ, akan muncul iklan tapi ternyata tak ada. Langsung muncul gambar dengan alunan musik gamelan kraton yang kental. Akhirnya, bisa juga daku menonton film Indonesia di sini. Hati berbunga-bunga karena ku dapat mendengar bahasa Indonesia (masih belum nyadar)…walaupun awalnya hanya terdengar dialog-dialog menggunakan bahasa Jawa. Dugaan hanyalah dugaan. Menit-menit berlalu, namun mengapa tak ku dengar sama sekali dialog berbahasa Indonesia? All in Javanese language, dan semua menggunakan musik gamelan ketika berdialog, persis seperti dialog ketoprak hanya setting-nya saja bukan di atas panggung. Pada awalnya aku mengerti sedikit, tapi lama kelamaan berubah..sulit sekali ku cerna maknanya. Aku terpaksa melihat teks tulisan kanji di bawahnya. Tak ada Inggris pula. Walaaaaah..Teks bahasa Cina nya pun banyak menggunakan istilah-istilah klasik, pantas saja aku ngga mengerti dialognya (wong ngomong boso jowo alus)…ciut deh. Daku ikhlas saja menerima kenyataan ini. Mulai saat itu, aku terus mengandalkan teks kanji. Inti cerita film musikal Opera Jawa itu terinspirasi oleh kisah klasik dunia perwayangan The Abduction of Sinta…(mesti nanya anak sastra Jawa nih).

Sambil memungkiri keadaan, dan tertawa sinis pada diri sendiri. Aku orang Indonesia, bapak-ibu asal Jawa Tengah, cuma mengerti bahasa Jawa Ngoko, tapi ketika di Taiwan nonton Film Indonesia dialog bahasa Jawa, baru mengerti lewat bantuan teks bahasa Mandarin. (Kak Joy yang setia di sampingku bilang sempat tertidur karena tak begitu mengerti juga). Kita podo-podo lah,mbak.

Penutup:

"Hati oh hati…ternyata rupamu seperti itu, hanya seonggok daging berwarna merah, namun mengapa manusia selalu memperebutkan engkau, dan tahukah kau karena-mu pula manusia bertikai demi mendapatkan dirimu?"

(the end)

*ketika menulis ini, snack pilusku berjatuhan ke mana-mana*

One day in November 2006

My day in Taiwan 1 Comment »
Taiwan,
NTNU
Dormitory
Room number 71002
Time 16:38
*sedang mendengarkan lagu "My Heart" karya Melly Goeslow*
…mungkinkah hati ini akan tegar..
Setting=kampus utama
Mampir dulu ah ke perpustakaan, cari-cari buku bahasa Arab
Alhamdulillah setelah searching pakai bahasa Mandarin, komputer memperlihatkan hasil
beberapa buku pelajaran bahasa Arab dasar…
ku cari buku-buku itu di lantai 6, aih..ketemu juga setelah mondar-mandir berkali-kali di rak-rak yang mencurigakan
Tiga buku saja dulu…(kapan ya bisa serius menelaahnya?)
Sekeluar perpustakaan, aku bertemu teman muslim asal Turki, cantik orangnya..
Kami ngobrol sebentar, karena sudah beberapa minggu tidak saling bertemu.
Ku ambil sepedaku,
kayuhku santai sambil mendengarkan lagu Oppick "Alhamdulillah" melalui mp3 ku.
langit semakin keruh, bertanda akan hujankah?
Segera ku pulang berharap selamat dan tetap kering sampai asrama.
Lelah..ku ingin tidur..istirahat…bisik hatiku selama perjalanan.
Setting=kampus 2 (branch)
Tiba di kamar lantai 10 asrama
Sepi, hanya ku sendiri..
Keinginan istirahat dan tidur batal,
Langsung ku buka laptop
ku raih kantong plastik di kulkas,
ku panaskan pangsit isi daging sapi itu, pangsit sisa ketika makan malam di sebuah restoran beef noodle halal di Ximen Ding,
ku ambil beberapa helai pakaian kotor untuk direndam,
ku setel lagu "My Heart" yang baru dikirim oleh Mbak Joy pagi tadi ketika jaga perpustakaan,
Mataku sesekali melirik ke sisi kanan komputer
meja ini penuh akan sesuatu..ku lihat di depan terletak sebuah buku berwarna kuning dipinjamkan oleh seorang teman …."La Tahzan"
Dengan sumpit ku ambil dumplings itu…sesekali mengetik, chat dengan seseorang di YM (siapa yaaa hihihi….)
Di tengah-tengah, pandangan mataku menoleh ke kiri, ku tatap langit yang tergantung di luar sana…
mendung…kelabu…hujankah? tidak..
hujan atau tidak, langit yang kutatap itu demikian indahnya..
teman chat itu bertanya, benarkah mendung itu indah ? :D
kurenungkan sesaat, mengapa aku melihat langit mendung kala itu begitu indah ya?
jadi melihat ke diri sendiri ..
ya..suasana hati ku kini seperti langit itu,
di saat kelam, kelabu, sesungguhnya terdapat keindahan yang masih dapat ku nikmati dan ku syukuri..
*pilus..oh pilus..namamu lucu sekali*
sebentar lagi mau makan pilus,amiiieenn..(ada teman yang m’bawain utk cemilan katanya)
Img_3744

Yang terjadi

Uncategorized 1 Comment »
Lama tak jumpa, lama tak tulis lagi..
Semua yang hendak ku torehkan penat di kepala ini..
Busy..busy..busy..itu mungkin alasan klise-ku jika ditanya..
Tapi memang itulah yang terjadi…
Selain karena koneksi internet sempat tak berfungsi selama tiga minggu,
selama itu pula harus dipalingkan ke hal lain yang  cukup dramatis…
Tiap menit, jam, tiap hari banyak saja kejadian tak terduga..
Ingin saat itu langsung ku tulis..
Namun, setelah terekam di memori, segalanya seperti mengalir begitu saja..hingga kini
tak mengindahkan benakku yang lain untuk melukiskannya melalui coretan rutin..
Memang, ada kisah menarik yang dapat ditulis dan berbagi dengan yang lain, tapi ada sesuatu yang lain yang mungkin bisa ku ingat cukup dalam ingatan saja..
Sebagai awal torehan setelah sekian lama tak bercerita….
Aku ingin mengatakan : Ramadhan-ku tahun ini berpelangi..

承諾

Music No Comments »

總想為親愛的人做一些什麼
總想給未知的世界一些力量
未知的世界
總會令人害怕
未來有多久
世界有多大

這首歌
送給你我最親愛的朋友
幸福就是你在我的身邊
曾經受的傷
不再令人害怕
走過的每一步
不曾有遺憾
世界有了你
永遠不會孤單

一雙手  一個夢
生命因你而獨特
許下承諾
讓我一生陪你走
我的笑  我的淚
都想要與你分享
有你讓我的生命更加堅強
最珍惜  最在乎
你烙印在我心上
一句承諾和一生的朋友

這首歌
送給你我最親愛的朋友
幸福就是你在我的身邊
曾經受的傷
不再令人害怕
走過的每一步
不曾有遺憾
世界有了你
永遠不會孤單

肩並肩我們要一起走

http://dehua.595.cc/music/down/cl.wma

Kita Ibarat Air

Uncategorized No Comments »

Oleh Yon’s Revolta

Di kaki Gunung Slamet yang dingin, suatu malam saya berbincang dengan teman-teman sesama pegiat masjid kampus. Biasanya kami lebih suka bicara tentang perkembangan politik terbaru, tapi kali ini temanya agak berbeda. Kami berbicara tentang air, kok air, apa yang menarik darinya…? Mari kita sama-sama menggalinya.

Kita ini tak ubahnya ibarat air. Dia mengalir dengan lincahnya. Jangan coba-coba diam karena akan menggenang sehingga bisa memunculkan bau tak sedap dan mengundang berbagai macam penyakit. Begitulah kita, apalagi yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Kita dituntut untuk senantiasa bergerak. Tentu saja bergerak di sini bukan hanya mengejar obsesi diri sendiri semata.

Tapi, memikirkan dan berbuat untuk orang lain itu perlu seperti kata Sayyid Qutb, seorang pemikir muslim dari Mesir, beliau pernah berkata, ”Siapa yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil, tapi, siapa yang mau memikirkan orang lain, dia akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.”

Di sinilah keberadaan kita di dunia ini mempunyai makna. Sungguh malang ketika ada atau tidaknya kita itu tidak mempunyai makna dan pengaruh sama sekali terhadap masyarakat sekitar kita. Atau bahkan, justru keberadaan kita tidak diinginkan orang karena ketika kita hadir justru menjadi biang kerok dan pembuat masalah. Jika kondisi ini menimpa kita, duh, betapa tidak ada harganya kita di mata orang lain.

Untuk itulah, keberadaan kita sesungguhnya di dunia ini adalah sejauh mana kita bisa berbuat bagi orang lain, karena inilah rahasia pribadi unggul manusia bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Pertanyaannya, apakah kita lebih sering memberikan manfaat bagi orang lain, pemberi solusi atas berbagai masalah, atau sebaliknya, tukang pembuat masalah dan pemerkeruh suasana? Ingat bahwa air bisa memberikan kesejukan, tapi juga bisa memunculkan banjir bandang.

Kemudian, kita juga bisa mengamati bahwa air itu selalu menuju ke tempat tertentu. Kita pun begitu, kehidupan kita harus mempunyai orientasi yang jelas, tujuan hidup yang jelas, tak sekedar mengalir begitu saja. Dalam hal ini, persoalan waktu menjadi penting karena orang besar, waktunya adalah sebuah sejarah tersendiri. Kita semestinya pandai memanfaatkan waktu, bukan agar menjadi orang besar, tapi agar kita bisa banyak berbuat untuk sesama untuk sebuah manfaat. Untuk itulah, kita perlu merenung ulang tentang kebiasaan yang masih kita lakukan.

Berapa banyak waktu yang terbuang untuk menonton televisi, jalan-jalan ke mall atau bersenang-senang menikmati massa muda. Sementara, seperti kata Hasan Al-Banna ”Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia”. Masihkan kita akan bermalas-malasan, sementara kita sering terlalu berbangga diri dengan identitas sebagai seorang muslim padahal jarang berjuang menyeru kebaikan apalagi mencegah kemungkaran. Duh, betapa malunya kita kepada Allah SWT ketika kita mengaku pejuang sejati.

***

Tak hanya sekedar itu, air ternyata juga mempunyai folosofi yang mendalam. Ketika ditahan atau dihambat dia akan terus mencari jalan lain, jalan keluarnya. Semasa dihambat itu, kekuatan air juga semakin besar. Lihat saja, misalnya ketika air dibendung, setelahnya akan menghasilkan energi yang besar. Inilah rahasia besar air yang kadang tidak kita sadari. Di dalam kehidupan keseharian kita, barangkali banyak persoalan atau bahkan konflik yang kita rasakan. Banyak orang yang memandang remeh cita-cita dan obsesi kita.

Namun, ketika kita berpikir positif atas berbagai onak dan duri yang melanda itu terkadang justru membuat kita semakin dewasa untuk menjalani kehidupan di kemudian hari. Syaratnya, tak usahlah terlalu banyak berkeluh kesah. Yang terpenting adalah tetaplah tegak berdiri, bergerak menyongsong obesesi-obsesi kita, Insyallah ketika kerja keras sudah kita lakukan, Allah pasti akan membalas dengan hasil kebaikan yang memuaskan bagi kita. Masalah hidup akan senantiasa ada, tinggal bagaimana kita mensikapinya. Dengan keluh kesah semata, atau bijaksana menghadapinya.

Subhanallah, semoga setelah menuliskan ini saya akan tetap tegar menghadapi variasi seni kehidupan ini. Dan, tentu saja, saya berharap, setelah membaca goresan sederhana ini, Anda juga akan mempunyai semangat hidup yang lebih baik lagi. Salam cinta dan perjuangan…!

eramuslim

Kau tidak sendiri

Uncategorized No Comments »

Jumat malam, 30 Juni, aku menulis email ucapan ulang tahun untuk temanku. Belum selesai menulis, aku melirik ke sudut bawah layar komputerku, new message received Re:Assalamualaikum. A message from a friend, sebuah balasan email dari seorang kawan di Indonesia. Setelah melihat message itu, aku berhenti menulis sesaat. Kuabaikan sementara email ucapan untuk temanku, segera ku lihat message baru tadi. Banyak sekali yang ia tulis. Kubaca kalimatnya satu-persatu. Dari rangkaian kalimat yang ia tulis, aku melihat ia sedang menuangkan sesuatu yang sangat pahit. Mencoba berbagi masalah pelik apa yang telah ia alami setelah gempa Jogja menghantam daerahnya. Aku membaca hingga kalimat terakhirnya, tanpa disadari mataku berkaca-kaca, aku seperti sedang merasakan semua pengalaman yang ia tengah lalui sekarang. Ekspresiku kaku, tak bergeming tuk sesaat.

 

Ketika musibah gempa itu terjadi, aku sempat menanyakan kabarnya. Syukurlah semua keluarga dan kerabatnya tidak terkena apa-apa. Namun, bangunan-bangunan rumah, sekolah-sekolah dan sarana publik lainnya rusak parah. Jika sudah seperti ini, segala-galanya bak hilang ditelan bumi. Pekerjaan, karir, masa depan, bilamana semuanya akan dicapai kembali? Itulah kira-kira sepenggal inti yang kupahami tentang kondisinya kini. Bukan hanya itu yang membuatku terenyuh, tapi di sisi lain ia menceritakan inti persoalan yang membuat ia tidak setegar dulu. Terus terang, aku juga mengalami persoalan yang mirip dengannya. Kawan, kau tidak sendiri.

Apa yang dapat kulakukan untuk menghibur dan menyemangatinya kali ini?Ia sudah tidak di Jogja sekarang. Di tengah kegalauan hatinya, aku khawatir ia dapat melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan resiko. Wahai kawan, meskipun ku belum pernah bertemu denganmu, walau hanya berkomunikasi dalam jaringan maya, namun aku berterimakasih kau ingin berbagi. 

Beberapa hari terakhir ku tahu ia sedang di negeri seberang, Alhamdulillah kondisinya sehat dan baik-baik saja. Kawan, semoga di sana kau bertemu orang baik. Di suratmu kau pun bilang, di tengah ujian pasti ada jalan bagi orang yang beriman. Yakinlah di manapun kau berada, Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya selama kau masih hidup di bumi-Nya.

Ramah, Peredam Amarah

Religion 1 Comment »

Keramahan itu menyenangkan. Tidak hanya bagi orang lain yang melihatnya, tapi juga bagi diri kita. Keramahan akan menambah energi diri dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Ada sebuah kisah menarik dalam buku Kecerdasan Emosi. Dikisahkan, ada seorang pemabuk yang hendak berbuat onar di dalam kereta api. Kebetulan, di dalam kereta tersebut terdapat pula seorang ahli bela diri yang sangat terlatih. Di benak ahli bela diri ini telah terbayang pukulan seperti apa yang bisa merobohkan si pemabuk tersebut. Ia hampir saja melayangkan pukulan, saat si pemabuk mulai menggangu seorang ibu yang sedang menggendong bayi.

Tiba-tiba, datanglah seorang tua yang kurus menghampiri si pemabuk. Orangtua itu menyapanya dengan hormat dan penuh keramahan. Saat si pemabuk menghardiknya, ia pun tetap menjawab dengan ramah serta sikap terbaik.

Yang menarik, kemarahan si pemabuk perlahan-lahan mereda. Bahkan, di salah satu stasiun si pemabuk ikut turun bersama si kakek. Saat kereta bergerak lagi, tampak dari jendela, si pemabuk yang berbadan besar dan kekar duduk bersimpuh di samping kakek yang bijak tersebut.

Demikianlah, jika batu dibenturkan dengan batu lagi, niscaya salah satu atau keduanya akan ada yang terbelah. Akan tetapi, jika batu dibenturkan dengan tanah liat. Niscaya batu itu akan menjadi lengket dan menyatu dengan tanah liat.

Di dalam Alquran terdapat rumusan untuk menaklukkan hati, yaitu dengan bersikap lembut dan penuh kasih sayang. Allah SWT berfirman, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Allah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS An-Nahl [16]: 125).

Kita bisa merasakan bila sedang kesal atau marah, lalu berjumpa dengan orang yang bijaksana. Baru menatap wajahnya yang jernih dan cerah saja, hati kita sudah merasa sejuk. Belum lagi perhatian yang tulus serta keramahan dan tutur katanya yang berbobot. Sikap ini efektif meredam emosi kita. Bahkan, mungkin saja kita akan berubah pikiran dan menyesali perbuatan yang sebelumnya kita anggap benar.

Sahabat, ternyata biang kesusahan itu tidak terletak pada masalah yang sedang dihadapi. Namun, terletak pada sikap kita ketika menghadapi masalah tersebut. Sikap emosional tidak dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Sebaliknya ia akan lebih memperberat masalah yang dihadapi.

Sikap emosional sebenarnya berakar pada pribadi yang jauh dari kebeningan hati. Akibatnya suasana hati akan lelah, tegang, dan jauh dari ketenangan serta kebahagiaan. Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh pada perilaku. Mengapa? Reaksi apapun yang kita tampilkan, tidak akan jauh berbeda dengan suasana hati.

Karena itu, cobalah untuk menghadapi hidup ini dengan penuh semangat. Tunjukan selalu wajah yang cerah dan jernih. Tersenyumlah dengan wajar dan tulus. Temuilah orang lain dengan sikap yang sopan dan santun, dan sapalah mereka dengan penuh keramahan dan penghormatan. Bila demikian, niscaya kita akan menemukan bahwa beban yang selama ini menghimpit hati, akan terasa jauh lebih ringan dan lapang.

Selain itu, semangat untuk menghadapi persoalan pun akan berlipat ganda. Terlebih bila orang lain membalas keramahan kita. Semua itu akan menjadi tambahan energi dalam menghadapi berbagai masalah yang menghadang.

Keramahan itu menyenangkan. Tidak hanya bagi orang lain yang melihatnya, tapi juga bagi diri kita. Bukankah kita menginginkan kebahagiaan dalam hidup? Maka, marilah kita mulai dari sikap yang paling murah dan ringan, tapi cepat dirasakan hasilnya.

Selamat berbahagia bagi siapapun yang bisa bersikap ramah. Sekalipun terhadap orang yang berbuat tidak baik kepadanya. Wallahu a’lam bish-shawab. ( KH Abdullah Gymnastiar )

*to: my brother–Gatot :)

A Shoulder To Cry On

Music No Comments »

Life is full of lots of up and downs
And the distance feels further when you’re headed for the ground
And there is nothing more painful than to let you’re feelings take you down
It’s so hard to know the way you feel inside
When there’s many thoughts and feelings that you hide
But you might feel better if you let me walk with you by your side

And when you need a shoulder to cry on
When you need a friend to rely on
When the whole world is gone
You won’t be alone, cause I’ll be there
I’ll be your shoulder to cry on
I’ll be there, I’ll be a friend to rely on
When the whole world is gone
You won’t be alone, cause I’ll be there

All of the times when everything is wrong
And you’re feeling like there’s no use going on
You can’t give it up, I hope you work it out and carry on
S
ide by side, with you till the end
I’ll always be the one to firmly hold your hand
No matter what is said or done our love will always continue on

Everyone needs a shoulder to cry on
Everyone needs a friend to rely on
When the whole world is gone
You won’t be alone cause I’ll be there
I’ll be your shoulder to cry on
I’ll be there I’ll be a friend you rely on
When the whole world’s gone
You won’t be alone cause I’ll be there!

And when the whole world is gone
You’ll always have my shoulder to cry on….

to listen the music :D

Pergi ke Taoyuan (2)

Uncategorized 1 Comment »
“Kita naik kereta”, kata Pak Pangkuh. Kami berempat pun pergi ke Taibei Main Station untuk menyambung naik kereta ke Taoyuan. Tiket kereta Juguang perorang 66 NT (kalau tidak salah ingat), dan perjalanan ke sana kurang-lebih 30 menit.
Setelah sampai di Taoyuan Station, kami berjalan ke sebuah rumah makan Indonesia yang tidak jauh dari stasiun. Pemiliknya adalah seorang ibu Indonesia yang bersuamikan orang Taiwan. Banyak tenaga kerja Indonesia yang bermasalah datang ke tempat ini sekedar mengungsi ataupun mengadu tentang keluhan-keluhan lain. Restonya ini sering menjadi tempat tinggal sementara bagi mereka yang menghadapi masalah selama bekerja di Taiwan. Aku yakin, setiap hari ibu itu pasti sering melihat dan mendengar kasus-kasus yang menimpa para TKI itu, dari ketidakadilan yang menyangkut honor tidak diberi hingga permasalahan yang ditimbulkan oleh tenaga kerja itu sendiri. Ini hanya sebagian kecil dari sekian masalah yang dialami mereka. Aku semakin tahu jika sebenarnya kita tengok ke mereka sebagai pahlawan devisa di negeri orang, permasalahan-permasalahan itu begitu kompleksnya. Well, mudah-mudahan hal seperti ini tidak berlanjut lagi, dan semoga Allah menguatkan hati mereka serta meringankan semua permasalahan yang mereka alami. Amin.
Sebelum berangkat menuju sebuah SD tempat dilangsungkannya lomba nyanyi itu, kami singgah sebentar di rumah makan ini sambil minum es campur. Suasana di daerah itu memang sangat ‘indonesia’, di mana-mana banyak bertemu dengan raut wajah dan senyum khas orang Indonesia. Entah di balik senyum itu apakah hati mereka juga tersenyum bahagia? Namun aku yakin senyuman itu mengandung harapan-harapan untuk tetap berjuang di negeri ini. . Tak lama, Ibu pemilik resto mengajak kami naik ke mobilnya bersama dengan dua orang teman lainnya menuju lokasi perlombaan. Lokasinya tidak begitu jauh, dalam beberapa menit kami pun sampai di sana.
Singkatnya, perlombaan menyanyi diadakan di aula yang cukup besar milik SD tersebut. Ternyata seminggu sebelumnya, juga ada perlombaan serupa, tapi pesertanya adalah orang-orang Thailand. Minggu ini diadakan untuk orang Indonesia, dan seminggu kemudian akan diadakan untuk orang Filipina (kemarin-red). Acara hari itu diselenggarakan oleh departemen tenaga kerja Taoyuan County, dan sebuah yayasan bernama Zhongli Fuyin Tuanqi. Ada 23 peserta yang ikut perlombaan itu, sebagian berasal dari tanah jawa, sebagian berasal dari kalimantan. Dari lagu pop, dangdut hingga lagu berbahasa Jawa semuanya ada. Eh, ternyata banyak juga peserta yang menyanyikan lagu mandarin, loh. Mereka yang nyanyi lagu Mandarin rata-rata adalah tenaga kerja yang berasal dari Kalimantan. Kata Pak Pangkuh, kebanyakan mereka bekerja di pabrik. Oh ya, suaranya keren-keren deh, lagu yang dinyanyikan rata-rata lagu lama, mengingatkanku waktu awal-awal masuk sastra Cina UI. Hampir semua lagu mandarin yang dinyanyikan akrab di telingaku. Kami semua yang hadir di situ sebelumnya mengisi buku tamu dan dapat kupon untuk bisa mengambil snack gratis. Kalau gratisan aku biasanya semangat hehe..
Sudah hampir jam 4, kami berniat untuk segera kembali ke Taibei. Kupon itu segera kutukarkan dengan snackbox, tapi panitia yang pakai baju pink bilang harus tunggu setelah acara selesai. Aku merengut, karena waktu itu perutku keroncongan . Ya sudah, apa boleh buat. Tapi pas kita mau keluar, seorang panitia lain mendekati kami dan bicara sebentar dengan si bapak, ia mengucapkan terima kasih kepada bapak yang sudah hadir seraya memberikan empat snackbox untuk kami. Haha..panitia berbaju pink itu yang memberikan snackbox nya. Aku tersenyum senang dan berterimakasih kepada mereka. Pulangnya kami harus jalan ke resto semula tempat singgah pertama kali. Walaupun lapar, aku juga tidak langsung memakan snack itu, hehe..cuma latah ingin lihat apa isi kotak snack-nya.
Oya, selama perjalanan waktu lalu, Fengyao selalu mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan orang-orang Indonesia yang bekerja di Taiwan, dari segi sosial maupun religinya. Dari hasil penjelasan yang kami lontarkan padanya, menurutnya ternyata banyak sekali yang tidak diketahuinya tentang itu. Pertemuannya dengan kami kemarin seperti sudah diatur oleh yang di-Atas. Ia pun setuju dengan ungkapan itu. Sesampainya di resto, kami makan sebentar. Aku makan nasi plus lauk-pauk khas Indonesia (*lezaaat*), Mba Zulle makan soto (seger katanya). Pak Pangkuh dan Fengyao makan bakso. Bapak ternyata memesan bakso lagi untukku. Akhirnya setelah nasi kuhabiskan, aku lanjut makan baksonya huehehe..(bapak tahu aja aku lafar hehe). Selain aku, mba Zulle ternyata juga menambah rujak hihi… Setelah makan, kami pun segera beranjak meninggalkan rumah makan, dan pamit kepada suami ibu pemilik resto. Alhamdulillah (*kenyang..*). (not the end)

Pergi ke Taoyuan (1)

My day in Taiwan No Comments »

Minggu, 25 Juni 2006 pukul 11 siang waktu Taibei (eh ternyata kemarin tepat ulangtahun Burhan-adikku yang ketiga-loh), aku sampai di mesjid kecil (Culture Mosque), letaknya tidak jauh dari kos-ku. Di situ sudah ada Bpk.Pangkuh yang sedang menyantap bubur kacang hijau, Beliaulah yang akan mengajak kami ke Taoyuan siang itu, sebuah county yang cukup besar di sebelah barat kota Taibei. Sambil menunggu Mba Zulle, kami berbincang-bincang dengan rekan-rekan dan mbak-mbak yang juga sedang menyantap hidangan. Aku tidak makan, karena sebelum berangkat sudah sarapan Milo. Tak lama kemudian, datang Mba Zulle dengan senyum khasnya. Aku dan dia cukup antusias sekali ingin pergi ke Taoyuan. Ada apa di Taoyuan hari itu? Pak Pangkuh sebelumnya pernah bilang, hari itu akan ada lomba karaoke, pesertanya adalah orang-orang Indonesia yang kebanyakan bekerja di Taiwan. Aku hampir ikutan loh hehe..tapi masih belum siap, karena belum latihan di ktv (..alasan:p).

Aku senang sekali bisa ke Taoyuan, karena selama di sini belum pernah jalan-jalan ke sana (mba zulle bilang aku sudah pernah ke taoyuan, wong bandara kan ada di taoyuan katanya hihi..). Oya, county ini dengar-dengar komunitas orang Indonesianya lebih terasa dibandingkan di Taibei. Di Taoyuan banyak pabrik, dan sebagian tenaga kerja asal Indonesia di sana bekerja sebagai buruh pabrik.

Sekitar pukul 11.30 ada seorang teman Taiwan datang ke lantai basement tempat kami bercakap-cakap. Aku seperti mengenalnya, dan benar, ternyata dia adalah Mustafa (nama Arabnya, Fengyao adalah nama Chinese-nya). Entah ada angin apa yang membawa ia ke mesjid kecil, tapi aku yakin pasti berhubungan dengan thesis yang sedang dia kerjakan sekarang. Fengyao adalah mahasiswa pascasarjana jurusan Keagamaan di kampus yang sama dengan Agustin. Kini sedang berusaha menyelesaikan thesisnya yang berkaitan dengan kehidupan orang Indonesia Muslim di Taiwan. Dia cukup kaget juga melihat aku ada di situ haha..maklum aku dan dia jarang ketemu, dan kalaupun pernah ketemu itupun seringnya di acara-acara yang bertajuk Islam. Mbak-mbak menyambutnya ramah, dan memberikan semangkuk bubur kacang hijau untuk dia. Aku, Mba Zulle dan Pak Pangkuh siap-siap pergi meninggalkan mesjid menuju Taoyuan. Fengyao mendengar kami akan ke Taoyuan, tanpa ditanya langsung mengajukan diri untuk ikut bersama kami. Buburnya hanya termakan beberapa suap saja, kemudian kami pun langsung berangkat dengan mengucapkan salam terlebih dahulu untuk rekan-rekan yang masih asyik makan dan berbincang-bincang.

Dari sinilah pengalaman pergi ke Taoyuan dimulai.


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in