New Life
Uncategorized September 24th, 2008Salam,
My dear friendster blog,
and all the bloggers
Hampir setahun sudah rentang waktu yang begitu panjang tak ku isikan dengan kisah pengalaman hidup di negeri orang. Tahukah kau betapa banyak yang berubah selama ini? Dari perubahan status lajang menjadi ‘menikah’, dari kesibukan tak terkendali di Taiwan hingga aktivitas serius santai di Jerman, uppsss…ya, aku saat ini sedang hidup di negeri yang sama sekali tak pernah terpikirkan semenjak lahir ke dunia, bahkan setahun yang lalu pun, tak terlintas dalam benak ini akan pindah ke negeri empat musim yang penuh keju (makanan favorit) dan coklat (lumayan favorit). Takdir Allah begitu mempesona tanpa diduga-duga. Memberikanku kejutan di setiap waktu tanpa kusadari. Waktu cepat berlalu, dalam hitungan minggu aku pun dinikahi seseorang yang dipercayai Allah untuk membimbingku ke jalanNya.. (Yah.. kok jadi melankolis dan sedikit dramatis). Mohamad Adam, pasangan hidupku. Alhamdulillah. Karunia Allah yang tidak ternilai harganya di samping keluarga dan para sahabat sejatiku di seluruh penjuru dunia terutama di tanah air dan Taiwan.
Sekedar informasi, FYI, tahukah bahwa hidup pasca nikah-ku diwarnai dengan pengalaman berkesan dan menarik? Selama menikah dengan Momo (panggilan untuk suami), banyak kejadian dan pengalaman lucunya. Ya, karena latar belakang kami berdua sangat jauh berbeda. Bagaikan sendok dengan garpu, tapi ketemunya di piring juga (apa coba). Budaya, bahasa, keluarga, dan etnisitas merupakan perbedaan utama. Hanya satu persamaannya, yaitu keyakinan kami (banyak yang bilang alasan ini klise). Belum tahu persamaan lainnya kan? Well, bisa dilihat di album foto saya @Flickr. Anda akan menemukan apa yang menyebabkan kita cocok dan mempertimbangkan untuk berikrar hidup bersama. Malas klik link-nya?Ya sudah ku kasih tahu di sini aja. Yaitu Chinese culture termasuk kungfu, jalan-jalan, dan aktif sosialisasi hehehe…memang simple sih, tapi inti sebenar-benarnya mengapa kami berani memutuskan menikah adalah nekad…eh ya ngga lah, tapi atas dasar visi dan misi dakwah sebagai khalifah di bumi, juga pada dasarnya alasan menikah untuk ibadah. Ada guyonan yang aku sering dengar di antara orang-orang yang baru saja melangsungkan pernikahan.
“A: Aku menyesal setelah menikah.
B: Loh kok, kenapa?
A: Ya kenapa ngga dari dulu aja”.
Hehehe…Aku pernah cerita percakapan guyon di atas ke suami dengan memposisikan A sebagai perkataan dari suami dan B adalah istri. Eh si Momo malah mengira itu hal serius, dan punya opini lain. Kalau dia jadi A, dia pantang bilang menyesal, karena dia pikir kalau menikah dari dulu, mungkin dia tidak bisa bertemu dan menikahi Erna seperti sekarang. Jawabannya mengubah the sense of this humour, it senses romantic after he had his sweet argument. Ah, memang romantis dia.
Hmm, kenapa jadi cerita panjang lebar begini ya, padahal aku cuma mau kasih prolog sebagai bahan pembuka untuk mulai menulis blog lagi
Anyway, inshaAllah aku akan coba berbagi dengan cerita lain, yaitu kisah-kisah yang melatarbelakangi kehidupan yang sedang kujalani sekarang. Bagaimana dan siapa aku?Bagaimana dan siapa Momo?Bagaimana kami berdua bertemu dan bersatu bi’idznilah? (Jadi nambah PR-nya)
Ok, kututup tulisan ini dengan mengucapkan basmalah dan ‘welcome’ kepada saya sendiri yang telah sadar untuk mengaktifkan otaknya dan blognya dari rangkaian peristiwa selama setahun vakum off the road. Semoga lancar postingannya nanti, seperti bis maju lancar.
Wassalammualaikum,
Salam hangat (dari heater di sisiku dan secercah cahaya matahari yang menyorot di balik jendela mungil ruangan ini).
ps: seperti yang ditulis di halaman yang sama pada Multiply-ku.
October 6th, 2008 at 8:35 pm
Assalamu’alaikum wr. wb.
Selamat ya, semoga menjadi keluwarga yang Sakinah, Mawaddah, Warohmah. Semoga dikaruniani (Allah) keturunan generasi yang Qur’ani n Robbani. Amin.
Maaf banged aqu ga bisa dateng ke Nikahanmu n Mas Momo, coz waqtu tu bayiku masih dalam perawatan extra (maklum, prematur).
Kalo pulang ke Jakarta, mampir ke rumahku ya..