Mendadak, tarawih ke Frankfurt (1)

Uncategorized 4 Comments »

Cerita awal..

Rabu kemarin Momo mengajakku tarawih di mesjid Tarikh Frankfurt secara mendadak (ini salah satu tipe Momo–spontan euy). Aku yang baru selesai makan sup pembuka langsung bingung tak berujung, karena tidak direncanakan olehku sebelumnya. Momo dan Bilal Grup (Momo n D´Gank)saat itu dapat undangan Abu Hamzah ifthar di rumahnya. Aku justru ketiduran di rumah sampai kelewatan waktu ifthar. Hari itu seperti biasa dinginnya, niat ingin tidur-tiduran eh jadi tidur benaran. Kebetulan ada temannya yang searah mau pulang ke Frankfurt, jadi bisa ikut sejalan. Singkat kata, mereka datang menjemputku tanpa syarat. Mungkin sudah takdirku harus tarawih di Frankfurt malam ini. Perjalanan dari Darmstadt ke Frankfurt memakan waktu 20-30 menit dengan kecepatan mobil rata-rata 100km/jam. Di dalam mobil, masih ada dua brothers, yang mengemudi dan satu lagi yang berdomisili di Frankfurt, ia seorang ahli bank dan perekonomian syariah. Hari itu Momo mengundangnya untuk memberikan pelajaran tentang ekonomi syariah bagi muslim di Darmstadt, sayangnya pakai bahasa Jerman, so aku memilih tidak pergi. Dalam perjalanan Momo berceloteh ria, “I think i dont want to use Bank anymore, they are crazyyyyy, ya” (kata ‘crazy’, salah satu tipe dia juga, baik dalam hal pemakaian kata maupun tingkah lakunya yang hiperbolis. Sedangkan partikel akhiran ‘ya’ menandakan ia belum bisa menguasai penggunaan partikel ini secara benar dalam konteks bahasa Indonesia–orang Indonesia, terutama saya sering pakai partikel ‘ya’, dan Momo lama-kelamaan jadi kesukaan pake ‘ya’ juga). “Their systems are crazy. So many Riba. If you know how they manage the money circulation, you will know that they make a lot of Riba and that is haram!!”. Aku terdiam tapi tetap menanti komentarnya setelah mengikuti ‘kursus singkat’ tentang ekonomi syariah itu. Intinya kami tidak ingin menyimpan uang di bank manapun kecuali bank syariah, tapi di Jerman mana ada? Dari gaya penjelasannya yang persuasif, ia bersikukuh bahwa all of the non syariah banks in the world are crazy, dan kalau riba memang jelas hukumnya haram, so dont save your money in those kind of banks. Minggu ini kami memang sedang tertarik dengan penjelasan ekonomi syariah, dan minggu sebelumnya kami juga pernah menghadiri ifthar komunitas orang Indonesia muslim dan ustad yang didatangkan langsung dari Indonesia sempat berceramah sedikit mengenai perbankan dan ekonomi syariah.

Fiuuh..sampai juga di tikungan dekat mesjid Tarikh. Kami berterima kasih kepada si brother (aku lupa namanya), dan berjalan cepat-cepat menuju mesjid. Setelah sholat Isha, aku duduk sebentar karena kebetulan sedang rehat dan ceramah. Tidak lama, mulai kembalilah tarawihnya. Ayat-ayat cinta Allah yang dilantunkan imam malam itu, subhanallah..begitu indah! Dahsyat dan luar biasa sekali. Sampai merinding dibuatnya, bahkan ada beberapa jamaah yang sesenggukan karena penghayatan akan makna surat yang dibacakan imam. Ah, itulah sebabnya Momo memilih tarawih di mesjid ini. Ia merasa menyesal jika Ramadhan ini tidak ke mesjid Tarikh, tapi alhamdulillah kami bisa pergi ke sana berdua. Dari suaranya aku menebak imam itu masih amatlah muda. Dan memang benar, Momo mengiyakan. Selesai tarawih, dengan lampu temaram yang menemani kesepian di perjalanan kami menuju halte trem, ia berceloteh gembira lagi. Menanyakan komentarku tentang vokal imam tadi. Ia ingin punya vokal baca quran seperti itu hihihi..Aku tersenyum padanya,  ”just be yourself, honey”. Iya mau bagaimana lagi, soalnya di jalanan ia mencoba melantunkan surat dengan meniru suara si imam tadi, suaranya menggelegar. Untung tidak ada orang yang melempari kami botol seperti yang di film-film kartun. Akhirnya ia mengubah suaranya sampai pada derajat keaslian suaranya sendiri.

Kami naik trem menuju Hauptbahnhof, stasiun Frankfurt. Sesampainya di stasiun dan membeli tiket, masih ada waktu tersisa sekitar setengah jam. Tiba-tiba Momo bertanya, lagi-lagi dengan wajah berseri-seri penuh percaya diri, ”Erna, mau kah kamu kutunjukkan sisi malam Frankfurt?”. Aku pun mengiyakan dengan semangat. Dalam benak aku sudah mengetahui apa yang akan ia perkenalkan di sekitar stasiun ini.

New Life

Uncategorized 1 Comment »

Salam,

My dear friendster blog,

and all the bloggers

Hampir setahun sudah rentang waktu yang begitu panjang tak ku isikan dengan kisah pengalaman hidup di negeri orang. Tahukah kau betapa banyak yang berubah selama ini? Dari perubahan status lajang menjadi ‘menikah’, dari kesibukan tak terkendali di Taiwan hingga aktivitas serius santai di Jerman, uppsss…ya, aku saat ini sedang hidup di negeri yang sama sekali tak pernah terpikirkan semenjak lahir ke dunia, bahkan setahun yang lalu pun, tak terlintas dalam benak ini akan pindah ke negeri empat musim yang penuh keju (makanan favorit) dan coklat (lumayan favorit). Takdir Allah begitu mempesona tanpa diduga-duga. Memberikanku kejutan di setiap waktu tanpa kusadari. Waktu cepat berlalu, dalam hitungan minggu aku pun dinikahi seseorang yang dipercayai Allah untuk membimbingku ke jalanNya.. (Yah.. kok jadi melankolis dan sedikit dramatis). Mohamad Adam, pasangan hidupku. Alhamdulillah. Karunia Allah yang tidak ternilai harganya di samping keluarga dan para sahabat sejatiku di seluruh penjuru dunia terutama di tanah air dan Taiwan.

Sekedar informasi, FYI, tahukah bahwa hidup pasca nikah-ku diwarnai dengan pengalaman berkesan dan menarik? Selama menikah dengan Momo (panggilan untuk suami), banyak kejadian dan pengalaman lucunya. Ya, karena latar belakang kami berdua sangat jauh berbeda. Bagaikan sendok dengan garpu, tapi ketemunya di piring juga (apa coba). Budaya, bahasa, keluarga, dan etnisitas merupakan perbedaan utama. Hanya satu persamaannya, yaitu keyakinan kami (banyak yang bilang alasan ini klise). Belum tahu persamaan lainnya kan? Well, bisa dilihat di album foto saya @Flickr. Anda akan menemukan apa yang menyebabkan kita cocok dan mempertimbangkan untuk berikrar hidup bersama. Malas klik link-nya?Ya sudah ku kasih tahu di sini aja. Yaitu Chinese culture termasuk kungfu, jalan-jalan, dan aktif sosialisasi hehehe…memang simple sih, tapi inti sebenar-benarnya mengapa kami berani memutuskan menikah adalah nekad…eh ya ngga lah, tapi atas dasar visi dan misi dakwah sebagai khalifah di bumi, juga pada dasarnya alasan menikah untuk ibadah. Ada guyonan yang aku sering dengar di antara orang-orang yang baru saja melangsungkan pernikahan.

“A: Aku menyesal setelah menikah.

B: Loh kok, kenapa?

A: Ya kenapa ngga dari dulu aja”.

Hehehe…Aku pernah cerita percakapan guyon di atas ke suami dengan memposisikan A sebagai perkataan dari suami dan B adalah istri. Eh si Momo malah mengira itu hal serius, dan punya opini lain. Kalau dia jadi A, dia pantang bilang menyesal, karena dia pikir kalau menikah dari dulu, mungkin dia tidak bisa bertemu dan menikahi Erna seperti sekarang. Jawabannya mengubah the sense of this humour, it senses romantic after he had his sweet argument. Ah, memang romantis dia.

Hmm, kenapa jadi cerita panjang lebar begini ya, padahal aku cuma mau kasih prolog sebagai bahan pembuka untuk mulai menulis blog lagi :(

Anyway, inshaAllah aku akan coba berbagi dengan cerita lain, yaitu kisah-kisah yang melatarbelakangi kehidupan yang sedang kujalani sekarang. Bagaimana dan siapa aku?Bagaimana dan siapa Momo?Bagaimana kami berdua bertemu dan bersatu bi’idznilah? (Jadi nambah PR-nya) :-(

Ok, kututup tulisan ini dengan mengucapkan basmalah dan ‘welcome’ kepada saya sendiri yang telah sadar untuk mengaktifkan otaknya dan blognya dari rangkaian peristiwa selama setahun vakum off the road. Semoga lancar postingannya nanti, seperti bis maju lancar.

Wassalammualaikum,

Salam hangat (dari heater di sisiku dan secercah cahaya matahari yang menyorot di balik jendela mungil ruangan ini).

ps: seperti yang ditulis di halaman yang sama pada Multiply-ku.


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in