Maghrib hari itu
My day in Taiwan 2 Comments »Kok sudah jarang tulis di blog lagi? Begitu komentar seorang teman kemarin. Hampir setiap hari saya menemui atau ngga mengalami sesuatu yang ingin langsung segera dituangkan ke blog. Dari isi materi kuliah sampai puisi tak berbobot, semua ingin langsung saya simpan dalam memori blog ini. Semester ini saya hanya mengambil dua mata kuliah, yang waktu kuliahnya cuma di hari selasa, dari pagi hingga sore menjelang magrib. Lalu, hari lain enak donk libur? kan kuliahnya cuma selasa tuh…Terbayang kalau kata-kata ini mungkin bisa diucapkan oleh adik-adik Erna di Jakarta. Justru alhamdulillah karena kuliah semua di hari selasa, jadi saya bisa menyibukkan dengan aktivitas lain di hari-hari non selasa. Oleh karena itu, saya sempatkan untuk menulis blog ini di luar hari selasa hehehe….kalau kebetulan ada kisah dan waktu, saya akan coba tulis kok ^ ^ .
Saya cerita kisah pendek saja ya. Kemarin ketika waktu magrib di mesjid besar Taipei, saya berkenalan dengan seorang muslimah, Sally namanya. Dia seorang Taiwan yang menikah dengan orang Pakistan selama delapan tahun. Namun, selama delapan tahun itu dia belum bershahadat walaupun sang suami pemeluk Islam. Saya rada takjub saja ketika dia menyebutkan bahwa ia baru bershahadat sekitar dua bulan yang lalu. It just because "feeling" katanya. Hidayah Tuhan datang dan hanya diberikan ke orang-orang tertentu yang Dia kehendaki. Ia sebenarnya menetap di Gaoxiong dengan suaminya, tapi karena orang tuanya sedang sakit, ia datang ke Taipei untuk menjenguknya selama sebulan lebih, dan berusaha untuk datang ke mesjid walaupun sekedar bertemu dengan saudari muslim lainnya. Dari sisi penampilan, Sally ingin seperti muslimah lainnya, menggunakan kerudungnya ke manapun dia pergi. Kemarin dia memakai kerudungnya dan terlihat kurang rapi (menurutnya), akhirnya saya coba ‘benahi’ sedikit dan mengajarinya (kayak eke bisa aja hihihi) memakai kerudung tanpa kerudung dalaman. Dia terlihat semangaaaaat sekali untuk bisa memakai jilbab dengan rapi. Tubuhnya yang jauh lebih besar dari saya tidak membuatnya merasa risih dengan penutup di kepalanya itu. Malah terlihat lebih cantik dan ‘ke’ai’. Dia ingin kerudung dalaman seperti yang saya pakai, karena ternyata itulah yang membuat kerudung fix di tempatnya sehingga rambut tidak mudah kelihatan keluar karena licinnya bahan kerudung. Minggu ini saya akan bertemu dengannya lagi inshaAllah membicarakan perihal kerudung itu tadi.
To Sally:
May Allah grants you strong iman and faith to follow your fitrah Deen. Amin.