Jumat malam, 30 Juni, aku menulis email ucapan ulang tahun untuk temanku. Belum selesai menulis, aku melirik ke sudut bawah layar komputerku, new message received Re:Assalamualaikum. A message from a friend, sebuah balasan email dari seorang kawan di Indonesia. Setelah melihat message itu, aku berhenti menulis sesaat. Kuabaikan sementara email ucapan untuk temanku, segera ku lihat message baru tadi. Banyak sekali yang ia tulis. Kubaca kalimatnya satu-persatu. Dari rangkaian kalimat yang ia tulis, aku melihat ia sedang menuangkan sesuatu yang sangat pahit. Mencoba berbagi masalah pelik apa yang telah ia alami setelah gempa Jogja menghantam daerahnya. Aku membaca hingga kalimat terakhirnya, tanpa disadari mataku berkaca-kaca, aku seperti sedang merasakan semua pengalaman yang ia tengah lalui sekarang. Ekspresiku kaku, tak bergeming tuk sesaat.

 

Ketika musibah gempa itu terjadi, aku sempat menanyakan kabarnya. Syukurlah semua keluarga dan kerabatnya tidak terkena apa-apa. Namun, bangunan-bangunan rumah, sekolah-sekolah dan sarana publik lainnya rusak parah. Jika sudah seperti ini, segala-galanya bak hilang ditelan bumi. Pekerjaan, karir, masa depan, bilamana semuanya akan dicapai kembali? Itulah kira-kira sepenggal inti yang kupahami tentang kondisinya kini. Bukan hanya itu yang membuatku terenyuh, tapi di sisi lain ia menceritakan inti persoalan yang membuat ia tidak setegar dulu. Terus terang, aku juga mengalami persoalan yang mirip dengannya. Kawan, kau tidak sendiri.

Apa yang dapat kulakukan untuk menghibur dan menyemangatinya kali ini?Ia sudah tidak di Jogja sekarang. Di tengah kegalauan hatinya, aku khawatir ia dapat melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan resiko. Wahai kawan, meskipun ku belum pernah bertemu denganmu, walau hanya berkomunikasi dalam jaringan maya, namun aku berterimakasih kau ingin berbagi. 

Beberapa hari terakhir ku tahu ia sedang di negeri seberang, Alhamdulillah kondisinya sehat dan baik-baik saja. Kawan, semoga di sana kau bertemu orang baik. Di suratmu kau pun bilang, di tengah ujian pasti ada jalan bagi orang yang beriman. Yakinlah di manapun kau berada, Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya selama kau masih hidup di bumi-Nya.