Kamu harus kuat, ya..
My day in Taiwan February 17th, 2006
Rabu pagi, 15 Februari 2006. Ketika tugas jaga perpustakaan di kampus, datang kakak kelas perempuan orang Korea (satu angkatan di atasku) menyapa. Aku pun menyapanya. Kami hanya sering sapa-menyapa kalau bertemu, dan hampir tidak pernah mengobrol lama. Namun hari itu tidak biasanya. Dia duduk, kemudian menghela nafas panjang, tiba-tiba berkata :”Makalah mata kuliah Prof. Deng saya baru hari ini diserahkan, kamu tahu ngga ada satu makalah lagi yaitu makalah mata kuliah Prof. Lin sampai sekarang saya sama sekali belum mulai mengerjakan lho. Aduh gawat! Tadi waktu menyerahkan makalah di kantor saya ngga berani lihat orang di sekeliling, takut ketahuan dosen-dosen itu, jadi langsung pergi diam-diam”. “Hah! Ada masalah apa bisa tertunda sampai sekarang?”, aku balik bertanya (sebenarnya tidak perlu ditanyakan, karena di jurusanku fenomena telat menyerahkan makalah sudah sering terjadi dan lama-lama menjadi hal yang lumrah). Dia mulai cerita kenapa bisa seperti ini. Sebabnya heterogen. Salah satu alasan yang terpaksa membuat dia sama sekali belum menyelesaikan makalah adalah masalah keluarganya di Korea. Liburan kemarin dia sempat pulang ke korea selama kurang-lebih seminggu (atau 10 hari ya..lupa:P). Sewaktu pulang mungkin ada masalah keluarga yang mengharuskan dia berniat untuk ambil cuti setahun. “Cuti?” Iya, katanya. “Mungkin kalau tidak diperbolehkan cuti oleh sekolah, saya akan keluar sekolah. Daripada nanti pihak sekolah yang mengeluarkan saya, lebih baik saya duluan yang mengeluarkan diri dari sini” (sambil menunjukkan form pengunduran diri yang sudah disiapkannya). Aku kaget campur geli.“Hahaha”, kami tertawa kecil. Lucu. Begitulah persiapannya. Di tangannya sudah ada form pengajuan cuti dan form pengunduran diri untuk jaga-jaga, jika memang tidak disetujui ambil cuti, dia nekat ingin langsung mengundurkan diri. Unbelievable! Begitu terus terangnya dan percaya diri sekali dia. “Sedemikian gawatkah masalah itu, sampai-sampai perlu ambil cuti selama setahun?” Well, kalau cuti masih ada harapan untuk bisa kembali kuliah lagi. Tapi kalau keluar sekolah? “Kakak ngga merasa sia-sia oleh apa yang sudah dipelajari selama 3 semester ini? “Urusan keluarga bagi saya lebih penting daripada gelar pendidikan yang sedang saya tempuh sekarang. Saya pun rela mengorbankan kuliah dan waktu saya selama menuntut S2 di Taiwan untuk hal ini. Lagipula keluarga menginginkan saya pulang ke Korea. Jika masalah sudah selesai, mudah-mudahan saya bisa melanjutkan kuliah saya lagi, dan saat itu pasti saya sekelas dengan kamu. Jangan lupa untuk menegur saya tahun depan ya!. Tapi kalau memang ada hal yang mengharuskan saya berhenti kuliah, saya juga sudah siap”. Raut wajahnya terlihat sedih, tapi mencoba untuk tetap terlihat tegar. Dia bilang lagi, “Kamu di sini harus kuat ya, belajar S2 di Taiwan sangat capai, tidak mudah. Jangan seperti saya, kemampuan saya masih kurang. Beban terasa berat sekali. Lebih cepat memutuskan keluar lebih baik, ketimbang kuliah selalu sulit konsentrasi, jadinya seperti ini deh. Makalah keteteran. Saya butuh istirahat, lagipula keluarga sedang ada masalah”, dan seterusnya. Obrolan kami hari itu cukup lama dengan permasalahan yang mendalam pula. “Kakak sedang tunggu ketua jurusan yah?”, tanyaku. “Iya. Dengar dari sekretarisnya, siang ini mau datang ke kampus”. Kami ngobrol macam-macam. Dia sharing pengalamannya waktu masih tingkat satu dulu. Dari situ aku juga mulai tanya-tanya tentang karakteristik mata kuliah wajib dan sifat dosen-dosen yang belum pernah aku dapat. Dengar dari penuturannya, aku memperoleh gambaran bahwa semester ke-2 yang sebentar lagi mulai, tepat senin depan tanggal 20 februari, ada mata kuliah wajib yang lebih berat dibandingkan semester satu, dosen pengajarnya pun lebih ketat dalam hal absensi (tentang absensi insyaAllah tidak ada halangan). Ngga lama kemudian, ada yang datang mengabarkan bahwa ketua jurusan sudah datang. “Saya pergi dulu ya..aduh..gugup nih, gimana ya kalau ngga disetujui”. Beberapa menit kemudian, dia datang lagi. Mukanya terlihat seperti terharu, seperti ada isak tangis sebelumnya. “Bagaimana?”, tanyaku. “Bisa cuti, kok. Beliau bilang saya harus sering kasih kabar ke jurusan. Saya sudah cerita masalah keluarga saya”. Tampaknya ketua jurusan kami cukup memahami masalahnya, sehingga begitu cepatnya menyetujui ia cuti. Walaupun di pikiranku masih banyak tanda tanya tentang problemnya yang membuat penasaran. “Saya pergi, ya..mau kasih surat ini ke bagian registrasi. Sampai ketemu tahun depan. Dan jangan lupa untuk menyapa saya kalau kita sekelas nanti!”, katanya ceria. “Oke, semoga masalah kamu lekas selesai. Jiayou!!”. Dia pun pergi melangkah meninggalkan perpustakaan tempat aku jaga.
Huih! S2 di sini benarkah sesulit yang dia katakan? Bahkan orang Taiwan pun beranggapan sama. (pertanyaan yang retoris ya..jelas-jelas sudah berlalu satu semester, masih belum sadar, hehe..) Menurutku belajar tidak ada yang mudah, karena semua berawal dari ketidaktahuan menjadi tahu. Hambatan biasanya terletak pada bagaimana sikap kita ketika menghadapi proses untuk menjadi tahu.
Ternyata di dunia ini bukan cuma daku yang memiliki masalah. Manusia, dari awal ia dilahirkan hingga setelah mati pun mempunyai masalah. Namun, kita yakin setiap masalah memiliki solusi. Banyak cara untuk mengatasi kesulitan yang ada, tinggal manusia itu yang memilih, bersikap sabar serta ikhlas untuk segala resiko yang muncul. Pengorbanan pun kadang diperlukan dan menjadi pilihan agar masalah dapat cepat terselesaikan.
Aku ingat perkataannya tadi yang berbunyi “kamu harus kuat, ya” (tapi dia pakai versi Mandarin :p). Perkataannya seolah memberi kesan sebuah nasehat yang membuatku sadar akan kemampuan sendiri, seperti hendak mengingatkanku sebelumnya untuk mampu bertahan jika nanti aku mengalami hal serupa yang dia alami sekarang (Ya Allah, ringankanlah dan ridhoilah segala urusan yang akan dan telah aku jalankan). Suatu kesan peringatan—lebih pas—nasehat dini yang dilontarkan oleh seorang kakak kelas yang tengah merasakan pahit getirnya kuliah di sini, serta jauh dari keluarga. Aku membatin, semoga di waktu mendatang kita bisa bertemu lagi dan mengobrol seperti ini lagi. Terus terang, kami hanya kenal raut muka tidak tahu nama. Sering bertatap muka, tapi tidak pernah bercakap-cakap seakrab ini. Aku sendiri baru tahu nama marganya ketika dia minta bantuanku untuk men-cap logo perpustakaan jurusan di form cutinya. Dia juga memanggil aku cukup dengan panggilan “adik kelas” (bagi kakak kelas yang kurang tahu nama adik kelasnya biasanya cukup memanggil sebutan ini. Aku pun begitu. Jika tidak tahu nama kakak kelas, biasanya memanggil dengan sapaan “kakak kelas” saja. Selain itu, panggilan semacam ini termasuk praktis, tidak peduli kenal nama atau tidak, kami sering begitu. Semacam gaya bahasa juga. Masih ingat kisah silat Cina? Panggilan semacam ini juga ada dengan sebutan “kakak seperguruan” dan “adik seperguruan”).
Alhamdulillah, hubungan antara senior dan junior di jurusanku cukup akrab dan kami semua saling membantu sama lain (kecuali pas mengerjakan makalah dan waktu ujian aja :)). Terima kasih Tuhan telah mengkaruniaiku orang-orang dan teman-teman baik untuk berjuang menjalani hidup di negeri ini..
Erna,
Taipei’06