Akhir Yang Berbeda
Religion February 21st, 2006note : forwarded story (thx to the sender)
Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku
dalam lingkungan yang baik.
Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang
malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang.
Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim
dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran, bahkan hingga aku
berkata
kepada diri sendiri:
"Alangkah sabarnya mereka … setiap hari begitu … benar-benar
mengherankan!"
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin dan itulah
shalat orang-orang pilihan.
Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang
matang.
Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu
kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari
kotaku.
Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan
menanggung beban sebagai orang terasing.
Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi
suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat.
Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang
dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping
menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan
bantuan.
Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan
semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamun sendirian… banyak waktu luang…
pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh… tak ada yang menuntunku di
bidang agama.
Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan
dan
orang-orang yang
mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan
dengan
rutinitas.
Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak
pernah kulupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas
disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol… tiba-tiba kami dikagetkan
oleh
suara benturan
yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil
bertabrakan dengan
mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari
menuju tempat
kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil
dalam kondisi kritis.
Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah
tewas dengan amat mengerikan.
Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.
Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah .." perintah
temanku.
Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu
populer,
Keadaan itu membuatku merinding.
Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…
Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku
tak berkutik dengan pandangan nanar.
Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat,
apalagi dengan kondisi seperti ini.
Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.
Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. Tak ada
gunanya…
Suara lagunya terdengar semakin melemah… lemah dan lemah sekali.
Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.
Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak
berbicara sepatahpun.
Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening…
Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang
hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).
Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..
Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang
dilakukan olehnya selama di dunia."
Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang
diriwayatkan dalam buku-buku Islam.
Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai
dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang
kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat
bahwa
kami
sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi
pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali
pada kebiasaanku semula…
Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak
kukenal beberapa waktu yang lalu.
Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang
namanya lagu-lagu.
Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada
kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar
dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
Kejadian yang menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa
mengerikan
itu…. sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya
mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia
berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep,
tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah
belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama
cepat-cepat menuju tempat kejadian.
Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit
agar langsung mendapat penanganan.
Dia masih sangat muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang taat
menjalankan perintah agama.
Wajahnya begitu bersih - mungkin karena sering tersiram air wudhlu.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik,
sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika
kami membujurkannya di dalam mobil,
kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an… dengan suara amat lemah.
"Subhanallah! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat
melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an?
Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia
hampir mati. Dalam kondisi seperti itu,
ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.
Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu.
Dalam batin aku bergumam sendirian
"Aku akan menuntunya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh
temanku terdahulu… apalagi aku sudah punya pengalaman."
aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an
yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar
dan
menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh
kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu
bersyahadat.
Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, degup
jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan
tangisku, takut diketahui kawanku.
Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak
kuasa menahan tangisnya.
Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras
mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit….. Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan
perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang
kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan
kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.
Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri
jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum
mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan.
Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin
ikut menyolatinya.
Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut
mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya.
Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya
almarhum hendak menjenguk neneknya di desa.
Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin.Di sana almarhum juga
menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.
Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula,
buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya.
Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian.
Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni.
Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak
kecil.
Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. Hanya ada
satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga.
Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok,
di sela dosa dan pertaubatan.
Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan
amal-amal yang nyata: memperbaiki diri dan mengajak orang lain…
"Rasulullah telah mengingatkan, "Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak
akan dipercepat oleh nasabnya."