Kamis, 16 Februari 2006

Pukul 06.30 waktu Taibei (baca:taipei) aku bersepeda ke Da’an (bukan Da’an  nama personel Project P lho, tapi ini bacanya "ta’an" huehuehehe). Taman ini dekat dari sekolah dan kosku, hanya 5 menit bersepeda ke sana (dengan kecepatan melebihi standar alias ngebut level 1). Sebelum masuk aku parkir kendaraan kesayanganku di deretan sepeda yang parkir.Seminggu yang lalu, aku masuk ke taman ini dengan niat bersepeda santai. Dengan gaya santai menghirup udara pagi nan segar, perlahan mengayuh pedal sepeda sambil nyanyi-nyanyi melihat kakek2 & nenek2 senam taiji (baca:thai ci, not taichi). Aku bersepeda dengan pandangan ke segala arah melihat orang-orang yang sebagian besar aki2 dan nini2 berolahraga. Tiba2 ada kakek-kakek yang hampir saja jalan menabrak sepedaku yang melaju berlawanan ke arahnya. Aku kira dia mau marah karena dipikirnya aku bersepeda tidak melihat jalan (emang bener sih :P ). Lalu dia menegur aku jangan bersepeda di dalam taman, karena nanti bisa kena denda kalau ketahuan polisi. Hey!! Bilang aja kaget karena aku meleng, jangan pakai bawa nama polisi segala. Aku kesal. Menggerutu dalam hati. Kenapa di saat hati sedang santai dan happy ada saja orang yang mengancam daku? (muka cemberut). Tadinya bersepeda ria menjadi bersepeda gila. Aku baru terpikir tadi harusnya aku jawab saja kalau aku sudah bawa uang kalaupun kena denda. Tapi masa aku harus balik lagi mengejar kakek tadi untuk hanya bilang itu. Akhirnya aku melanjutkan bersepeda pulang ke arah kos (ceritanya kesel sama kakek itu). Sampai rumah ku buka internet. Mengecek benarkah ada peraturan larangan bersepeda di taman itu. Setelah cari-cari, ngga ada peraturan eksplisit tentang peraturan selama berada di taman Da’an. Yang ada malah sejarah dan foto-foto indah the park.

Seminggu pun berlalu. Kamis pagi itu aku kembali ke Da’an Park. Ketika ingin memasuki taman dengan bersepeda, aku melihat simbol-simbol yang dipasang dekat pintu masuk taman. Di situ ada gambar sepeda yang dicoret garis miring. Oh..itukah yang dimaksud kakek itu? (minggu sebelumnya tidak melihat simbol itu). Tidak boleh membawa masuk sepeda sambil mengendarai keliling-keliling taman. Padahal, di dalam taman juga ada banyak sepeda yang di parkir dekat pepohonan. Tunggu.. cuma diparkir. Aku juga jarang yang lihat orang yang bersepeda santai di dalam. Paling hanya orang yang kelihatan hendak pulang atau baru datang saja yang bersepeda, bukan yang khusus bersantai-santai mengendarai sepeda sambil nyanyi-nyanyi kecil seperti aku :D.Hmm..mungkin benar juga si kakek itu. Kalau aku berlama-lama naik sepeda mengelilingi taman (habis malas jalan) dan bertemu polisi mungkin bisa dikenai denda. Karena tujuanku bukan menjadikan sepeda sebagai alat transportasi pulang-pergi, melainkan sebagai alat olahraga ‘malas’ jalan kaki dan membahayakan pejalan kaki yang sedang jalan pagi di tengah taman hehe..

Ya sudah, pagi itu aku memarkir sepeda di luar taman, kemudian berjalan masuk ke taman sambil gerak2 badan (tu wa ga pat..tu wa ga pat). Banyak orang yang menyukai olahraga di dekat pepohonan (seperti film India, tidak ada pohon tidak menari). Waduh..aku minder. Di mana-mana orang lansia yang berolahraga, apalagi yang senam taiji, setiap kelompok senam itu kira-kira ada 90 persen (mungkin mendekati 99 persen) adalah orang yang usianya di atas aku belasan tahun. Itupun yang terlihat paling muda diantaranya. Tapi aku tetap maju terus berjalan mencari jalan khusus bebatuan kerikil untuk aku injak-injak. Akhirnya aku menemukan jalan khusus bebatuan koral (setiap batunya seukuran batu main dampu waktu masih aku kecil) yang sengaja dibuat khusus bagi yang ingin melatih telapak kaki (semacam akupunktur). Aku lepas sandal jepit biruku, bertelanjang kaki menginjak sebuah batu yang memang ditanam dalam lapisan semen jalan itu. Aku tersenyum manis menyambut jalan bebatuan itu. Namun..Wow! sakitnya bukan kepalang! mukaku seketika meringis.@_@..menahan sakit. Selain aku, ada kakek tua yang berjalan menggunakan tongkat mencoba melalui jalan bebatuan itu dengan hanya memakai kaos kaki. Salut aku sama si kakek. Kakek ini tidak meringis kesakitan seperti aku. Hebat. Ketahuan deh kalau aku jarang berolah raga. Baru telapak kaki yang ‘olahraga’ sudah kesakitan seperti itu. Akhirnya aku tidak lama-lama berada di situ, langsung cabut jalan cari-cari jalan bebatuan lagi. Kali ini ada jalan yang dipenuhi bebatuan kerikil. Kerikilnya besar-besar (kerakal berarti namanya,ya). Nah, waktu menginjak jalan ini kakiku aman-aman, tidak perlu meringis lagi. Malah aku mondar-mandir di jalan itu kira-kira lebih dari sepuluh kali. Setelah merasa pusing mondar-mandir itu-itu saja, aku jalan lagi. Lalu mencari lahan untuk pemanasan tubuh. Dari kaki hingga kepala. Setelah bingung karena sepertinya seluruh gerakan pemanasan sudah ku lakukan semua, aku kemudian teringat gerakan umum bangun tidur. Iya, ngulet-ngulet seperti ulet.

Sudah satu jam aku berada di sana. Saatnya pulang beli makanan pagi. Aku keluar taman, mengambil sepeda dan mengayuhnya ke arah pulang. Lalu mampir ke dua tempat yang menjual sarapan pagi. Aku beli dua macam makanan, danbing (baca:tanbing, sejenis kulit lumpia yang tebal nan gurih rasanya) dan sandwich isi keju plus sayuran.

Sampai kos, langsung buka komputer men-cek email-email yang ku terima sehari sebelumnya. Sambil makan pagi ditemani sarapan, aku browsing internet sebentar. Setelah habis, aku berniat membaca komik rentalan yang belum selesai dibaca (memang belum mulai baca, denk). Hari itu harus dikembalikan karena sudah telat sehari. Jadi aku membacanya terkesan seperti dikejar-kejar dateline. Belum lama membaca, mataku tiba-tiba diserang rasa kantuk ruarrr biasa. Jam di laptopku waktu itu sepertinya masih pukul 9-an (9.30an mungkin). Aku tidak kuat menahan kantuk saat itu, aku melipat bagian halaman yang tengah ku baca untuk menandai bacaanku. Tidurlah daku dengan pulas. Di tengah kepulasan tidur pagi itu aku bermimpi aneh…..benar-benar aneh…..