Aku Ingin

Uncategorized 3 Comments »

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu"

(Prof.Dr.Sapardi Djoko Damono)

note: sajak puitis ini pernah dilagukan dalam film Cinta Dalam Sepotong Roti

My Beloved TCSL Teacher

Uncategorized No Comments »

 Ada enam profesor (utama) yang mengabdi alias mengajar di program magister TCSL (Teaching Chinese as Second Language). Metode mengajar mereka punya kekhasan masing2. Dengan bangga kukenalkan satu persatu… (senyum)

Satu, sang ketua jurusan : materi kuliahnya berhubungan dengan media komputer sebagai sarana pembelajaran bahasa Mandarin. Semester ini mengajar Research Methodology. Beliau sering mengajar kelas di siang hari jam-jam bobo siang. Usianya terbilang masih muda, tampan (banyak orang yang bilang), tegap berwibawa, murah senyum, humoris (jika di kelas), kuliahnya sering delay beberapa menit, selesai kuliah pun begitu. Wawasan dan pengetahuan tentang ilmu komputernya luas, kalau sudah menjelaskan bisa sangat mendetail, membuat kita sekelas mengangguk-angguk kemudian tanpa sadar mengangguk lebih lama—lelap tertidur.

Dua, profesor usia separuh baya: laki-laki, tokoh linguistik terkenal, mengajar bidang linguistik terutama menyangkut tata bahasa Mandarin (gurunya guru tata bahasa). Rendah hati, ramah, open-minded person, daya analisanya tajam, ucapannya selalu singkat namun padat, lafal bahasanya jelas, jam kuliah selalu on time baik saat mulai maupun pas selesai (kalo bel bunyi, n ngga ada yg diomongin lagi lsg stop). Menyukai sesuatu yang baru (kalau ada topik makalah yg baru n menarik perhatiannya, pasti dapat nilai tinggi). Kuliahnya bikin anak-anak terbengong-bengong karena ngga tahu apa yang lagi diomongin. Blank abis. Soalnya ilmu tata bahasanya jauh di atas kita-kita yang masih polos :p (kayak katak dlm tempurung klo lg pelajarannya hehehe..bengooooong..dalam hati cuma berkata "ooooo, gitu ya").

Tiga, dosen wanita, usianya mendekati pensiun (mungkin sudah masa pensiun, tapi belum ada dosen lain yang bisa menggantikan ilmu fonologinya). Mengajar fonologi dan yang berhubungan dengan speaking method. On-time also, fisiknya kuat loh, seperti dosen tata bahasa tadi, coz mereka semua mengajar kuliah di jam sarapan. Pagi-pagi dengan senyumnya yang segar menyapa kami memulai kuliah phonetic teaching practiccum (bener gak inggrisnya?pokoknya mirip2 itu deh). Jiayou! wahai anak muda! fisik kalian jangan kalah sama yang dosen-dosen senior ini! (menyemangati diri sendiri). Kuliah beliau ini suka bikin mahasiswa Taiwan sendiri canggung dengan lafal bahasa mandarin mereka yang kurang baku, karena tuntutan lafal harus seperti orang Cina daratan (contohnya kayak kalau orang amerika dituntut kuliah dengan bicara logat inggris gitu, rada aneh, but have to). Tentang tugas-tugas kuliah ini, aku seringkali menyelesaikan pas dekat dateline, ngga tahu kenapa sering begini..huaaa!! (sedih mikirinnya, tapi maklum kemampuan sendiri)

Empat, dosen wanita, usia terbilang masih muda (dibanding dosen sebelumnya):Materi pengajarannya tentang metode pengajaran dan penyusunan buku pengajaran mandarin, dll yang masih menyangkut teknik & bahan pengajaran bahasa. Kuliah beliau padat, banyak tugas, aktif. Dermawan nilai (semester lalu nilai kita sekelas bagus-bagus). Pernah traktir pizza sekelas di hari akhir kuliah semester lalu. Mengajar materi terkadang suka bikin kita bingung, karena yang disampaikan minggu lalu dengan minggu sekarang suka beda-beda. Bagai air di daun talas (yuhuu..peribahasa lagi.Norak ya..:p).

Lima, dosen wanita, muda juga : baru dapat kuliahnya di semester ini, jadi ngga ada banyak komen tentang beliau, anyway menurut hasil investigasi dengan kakak kelas, dosen ini baik. Kesanku, lafal bahasanya seperti orang taiwan pada umumnya, kurang begitu baku maksudnya (maafkan daku, bu dosen, tapi itu kenyataan). Mengajar teaching practiccum. Kuliah beliau mengajar bagaimana kita praktek mengajar (hhii….repetition-nya agak ngebingungin ya). Bener-bener mengajar loh (murid sample yang kita ajar yaitu suaminya yang orang amrik).

Enam, dosen laki-laki, muda : belum pernah dapat kuliahnya, so no comment. Tapi bulan Maret or April mendatang akan mengganti dosen tata bahasa mengajar beberapa pertemuan aja, coz profesor tata bahasa lagi ada urusan.

Hati

Religion 1 Comment »

Hati

Yang paling menakjubkan pada diri manusia adalah hatinya, padahal ia merupakan sumber hikmah sekaligus lawannya. Jika timbul harapan, ketamakan akan menundukkannya. Jika ketamakan telah berkobar, ia akan dibinasakan oleh
kekikiran. Jika ia telah dikuasai oleh keputusasaan, penyesalan akan membunuhnya. Jika ditimpa kemarahan, menjadi jadilah marahnya. Jika sedang puas, ia lupa menjaganya. Jika dilanda ketakutan, dia disibukkan oleh
kehati-hatian. jika sedang dalam kelapangan (kaya), bangkitlah kesombongannya. Jika mendapatkan harta, kekayaan menjadikannya berbuat sewenang wenang. Jika ditimpa kefakiran, ia tenggelarn dalam kesusahan. Jika
laparnya menguat, kelemahan menjadikannya tidak mampu berdiri tegak. Dan jika terlampau kenyang, perutnya akan mengganggu kenyamanannya. Sesungguhnya setiap kekurangan akan membahayakan, dan setiap hal yang melampaui batas
akan merusak dan membinasakan.

Ada empat hal yang mematikan hati, yaitu: dosa yang bertumpuk-tumpuk,(mendengarkan) guyunon orang pandir, banyak bersikap kasar dengan kaum perempuan, dan duduk bersarna orang orang mati.
Orang orang bertanya, "Siapakah orang orang mati itu, wahai Amirul Mu’minin?"

Imam ‘Ali a.s. menjawab, "Yaitu setiap hamba yang hidup bergelimang dalam kemewahan."

Ketahuilah! Sesungguhnya di antara bencana ada kefakiran, yang lebih berat daripada kefakiran adalah penyakit badan, dan yang lebih berat daripada penyakit badan adalah penyakit hati. Ketahuilah! Sesungguhnya di antara
kenikmatan adalah banyak harta, yang lebih utama daripada banyak harta adalah kesehatan badan, dan yang lebih utama daripada kesehatan badan adalah ketakwaan hati.

Tanyailah hati tentang segala perkara karena sesungguhnya ia adalah saksi yang tidak akan menerima suap.

Sebaik baik hati adalah yang paling ingat.

Nyalakanlah hatimu dengan adab, sebagaimana nyalanya api dengan kayu bakar.

Harta simpanan yang paling bermanfaat adalah cinta hati.

Sesungguhnya hati memiliki keinginan, kepedulian, dan keengganan. Maka,datangilah ia dari arah kesenangan dan kepeduliannya. Sebab, jika hati itu dipaksakan, ia akan buta.

Sesungguhnya hati mengalami kejemuan, sebagaimana jemunya badan. Maka, berikanlah padanya anekdot anekdot hikmah.

Jika engkau ragu dalam hal kecintaan seseorang, maka tanyailah hatimu tentangnya.

Kelas malam

Uncategorized 2 Comments »

Rabu, 22 Februari 2006

Malam.18.30.Pertama kali di Taiwan mengikuti kuliah malam. Kuliah ini diluar mata kuliah jurusanku. Ketua jurusan kami yang menyarankan agar mahasiswa asing wajib ambil kelas ini. Yup. Kelas bahasa. Selain membantu siswa untuk menguasai bahasa Mandarin lebih baik lagi, kuliah ini diharapkan dapat membantu kami ketika menulis makalah (n jg thesis) selama mengikuti kuliah jurusan.Siswanya foreign students, dan semuanya adalah teman seangkatan satu jurusan.

Ada yang menarik ketika pertama kali mengikuti kelas bahasa ini. Guru kami, wanita, berusia diatas 35, namun masih terlihat seperti usia menjelang 30 (awet muda maksudnya). Materi pelajaran bahasa untuk kami berbeda dengan materi di kelas pusat bahasa lain yang juga ada di kampus ini. Kami akan banyak mempelajari bahasa klasik dan resmi, serta menghafal idiom-idiom Cina sebagai pekerjaan rumah. Terbayang di depan mata, kuliah seperti ini menarik namun juga perlu ketekunan maksimal.

Di tengah pengajaran, sang guru menyelingi sebuah pertanyaan unik. "Kau lebih suka menjadi matahari atau bulan?" Menurutnya, jawaban seseorang akan pertanyaan itu dapat mencerminkan atau setidaknya memperlihatkan karakter orang tersebut.

Aku sempat menjawab, karena ia hanya menanyakan ini ke aku, tidak ke setiap siswa. Jawabanku adalah : "matahari". Singkat cerita, sang guru memprioritaskan "bulan" sebagai jawaban yang ideal dengan berbagai alasannya. Aku memikirkan penjelasannya. Lumayan mencirikan sifat manusia semestinya dan pada umumnya. Hmm…dari jawaban sang guru itu aku juga sedikit mengira-ngira karakteristik beliau..Hehehe..Walaupun dari uraiannya, ia kurang menerima jawaban "matahari".

Kenapa ia pilih bulan? kenapa aku pilih matahari?

Just let you think about it..okay..:) I’ve my own opinion and character.

Akhir Yang Berbeda

Religion No Comments »

note : forwarded story (thx to the sender)

Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku
dalam lingkungan yang baik.
Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang
malam.  Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang.

Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim
dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran, bahkan hingga aku
berkata
kepada diri sendiri:

"Alangkah sabarnya mereka …  setiap hari begitu … benar-benar
mengherankan!"
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin dan itulah
shalat orang-orang pilihan.
Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang
matang.
Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu
kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari
kotaku.
Perkenalanku  dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan
menanggung beban sebagai orang terasing.
Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi
suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat.
Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang
dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping
menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan
bantuan.
Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan
semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.

Aku bingung dan sering melamun sendirian… banyak waktu luang…
pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh… tak ada yang menuntunku di
bidang agama.
Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan
dan
orang-orang yang
mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan
dengan
rutinitas.

Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak
pernah kulupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas
disebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol… tiba-tiba kami dikagetkan
oleh
suara benturan
yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil
bertabrakan dengan
mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari
menuju tempat
kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil
dalam kondisi kritis.
Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah
tewas dengan amat mengerikan.
Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.
Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah … Laailaaha Illallaah .." perintah
temanku.

Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu
populer,
Keadaan itu membuatku merinding.
Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…
Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku
tak berkutik dengan pandangan nanar.

Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat,
apalagi dengan kondisi seperti ini.
Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.
Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. Tak ada
gunanya…
Suara lagunya terdengar semakin melemah… lemah dan lemah sekali.
Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.
Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak
berbicara sepatahpun.
Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening…

Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang
hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk).
Ia berkata "Manusia  akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..
Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang
dilakukan olehnya selama di dunia."
Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang
diriwayatkan dalam buku-buku Islam.
Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai
dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang
kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat
bahwa
kami
sedang membawa mayat.

Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi
pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali
pada kebiasaanku semula…
Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak
kukenal beberapa waktu yang lalu.

Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang
namanya lagu-lagu.
Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada
kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar
dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

Kejadian yang menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa
mengerikan
itu…. sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya
mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia
berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep,
tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah
belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama
cepat-cepat menuju tempat kejadian.
Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit
agar langsung mendapat penanganan.
Dia masih sangat muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang taat
menjalankan perintah agama.
Wajahnya begitu bersih - mungkin karena sering tersiram air wudhlu.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik,
sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika
kami membujurkannya di dalam mobil,
kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an… dengan suara amat lemah.

"Subhanallah! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat
melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an?
Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia
hampir mati. Dalam kondisi seperti itu,
ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.

Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur’an seindah itu.
Dalam batin aku bergumam sendirian
"Aku akan menuntunya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh
temanku terdahulu… apalagi aku sudah punya pengalaman."
aku meyakinkan diriku sendiri.

Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an
yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar
dan
menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh
kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu
bersyahadat.

Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, degup
jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan
tangisku, takut diketahui kawanku.
Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak
kuasa menahan tangisnya.
Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras
mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit….. Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan
perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang
kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan
kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.
Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri
jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum
mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan.
Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin
ikut menyolatinya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut
mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya.
Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya
almarhum hendak menjenguk neneknya di desa.
Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin.Di sana almarhum juga
menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.
Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula,
buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya.
Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian.
Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni.
Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak
kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. Hanya ada
satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga.
Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok,
di sela dosa dan pertaubatan.
Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan
amal-amal yang nyata: memperbaiki diri dan mengajak orang lain…
"Rasulullah telah mengingatkan, "Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak
akan dipercepat oleh nasabnya."

Da’an Park

Uncategorized No Comments »

Kamis, 16 Februari 2006

Pukul 06.30 waktu Taibei (baca:taipei) aku bersepeda ke Da’an (bukan Da’an  nama personel Project P lho, tapi ini bacanya "ta’an" huehuehehe). Taman ini dekat dari sekolah dan kosku, hanya 5 menit bersepeda ke sana (dengan kecepatan melebihi standar alias ngebut level 1). Sebelum masuk aku parkir kendaraan kesayanganku di deretan sepeda yang parkir.Seminggu yang lalu, aku masuk ke taman ini dengan niat bersepeda santai. Dengan gaya santai menghirup udara pagi nan segar, perlahan mengayuh pedal sepeda sambil nyanyi-nyanyi melihat kakek2 & nenek2 senam taiji (baca:thai ci, not taichi). Aku bersepeda dengan pandangan ke segala arah melihat orang-orang yang sebagian besar aki2 dan nini2 berolahraga. Tiba2 ada kakek-kakek yang hampir saja jalan menabrak sepedaku yang melaju berlawanan ke arahnya. Aku kira dia mau marah karena dipikirnya aku bersepeda tidak melihat jalan (emang bener sih :P ). Lalu dia menegur aku jangan bersepeda di dalam taman, karena nanti bisa kena denda kalau ketahuan polisi. Hey!! Bilang aja kaget karena aku meleng, jangan pakai bawa nama polisi segala. Aku kesal. Menggerutu dalam hati. Kenapa di saat hati sedang santai dan happy ada saja orang yang mengancam daku? (muka cemberut). Tadinya bersepeda ria menjadi bersepeda gila. Aku baru terpikir tadi harusnya aku jawab saja kalau aku sudah bawa uang kalaupun kena denda. Tapi masa aku harus balik lagi mengejar kakek tadi untuk hanya bilang itu. Akhirnya aku melanjutkan bersepeda pulang ke arah kos (ceritanya kesel sama kakek itu). Sampai rumah ku buka internet. Mengecek benarkah ada peraturan larangan bersepeda di taman itu. Setelah cari-cari, ngga ada peraturan eksplisit tentang peraturan selama berada di taman Da’an. Yang ada malah sejarah dan foto-foto indah the park.

Seminggu pun berlalu. Kamis pagi itu aku kembali ke Da’an Park. Ketika ingin memasuki taman dengan bersepeda, aku melihat simbol-simbol yang dipasang dekat pintu masuk taman. Di situ ada gambar sepeda yang dicoret garis miring. Oh..itukah yang dimaksud kakek itu? (minggu sebelumnya tidak melihat simbol itu). Tidak boleh membawa masuk sepeda sambil mengendarai keliling-keliling taman. Padahal, di dalam taman juga ada banyak sepeda yang di parkir dekat pepohonan. Tunggu.. cuma diparkir. Aku juga jarang yang lihat orang yang bersepeda santai di dalam. Paling hanya orang yang kelihatan hendak pulang atau baru datang saja yang bersepeda, bukan yang khusus bersantai-santai mengendarai sepeda sambil nyanyi-nyanyi kecil seperti aku :D.Hmm..mungkin benar juga si kakek itu. Kalau aku berlama-lama naik sepeda mengelilingi taman (habis malas jalan) dan bertemu polisi mungkin bisa dikenai denda. Karena tujuanku bukan menjadikan sepeda sebagai alat transportasi pulang-pergi, melainkan sebagai alat olahraga ‘malas’ jalan kaki dan membahayakan pejalan kaki yang sedang jalan pagi di tengah taman hehe..

Ya sudah, pagi itu aku memarkir sepeda di luar taman, kemudian berjalan masuk ke taman sambil gerak2 badan (tu wa ga pat..tu wa ga pat). Banyak orang yang menyukai olahraga di dekat pepohonan (seperti film India, tidak ada pohon tidak menari). Waduh..aku minder. Di mana-mana orang lansia yang berolahraga, apalagi yang senam taiji, setiap kelompok senam itu kira-kira ada 90 persen (mungkin mendekati 99 persen) adalah orang yang usianya di atas aku belasan tahun. Itupun yang terlihat paling muda diantaranya. Tapi aku tetap maju terus berjalan mencari jalan khusus bebatuan kerikil untuk aku injak-injak. Akhirnya aku menemukan jalan khusus bebatuan koral (setiap batunya seukuran batu main dampu waktu masih aku kecil) yang sengaja dibuat khusus bagi yang ingin melatih telapak kaki (semacam akupunktur). Aku lepas sandal jepit biruku, bertelanjang kaki menginjak sebuah batu yang memang ditanam dalam lapisan semen jalan itu. Aku tersenyum manis menyambut jalan bebatuan itu. Namun..Wow! sakitnya bukan kepalang! mukaku seketika meringis.@_@..menahan sakit. Selain aku, ada kakek tua yang berjalan menggunakan tongkat mencoba melalui jalan bebatuan itu dengan hanya memakai kaos kaki. Salut aku sama si kakek. Kakek ini tidak meringis kesakitan seperti aku. Hebat. Ketahuan deh kalau aku jarang berolah raga. Baru telapak kaki yang ‘olahraga’ sudah kesakitan seperti itu. Akhirnya aku tidak lama-lama berada di situ, langsung cabut jalan cari-cari jalan bebatuan lagi. Kali ini ada jalan yang dipenuhi bebatuan kerikil. Kerikilnya besar-besar (kerakal berarti namanya,ya). Nah, waktu menginjak jalan ini kakiku aman-aman, tidak perlu meringis lagi. Malah aku mondar-mandir di jalan itu kira-kira lebih dari sepuluh kali. Setelah merasa pusing mondar-mandir itu-itu saja, aku jalan lagi. Lalu mencari lahan untuk pemanasan tubuh. Dari kaki hingga kepala. Setelah bingung karena sepertinya seluruh gerakan pemanasan sudah ku lakukan semua, aku kemudian teringat gerakan umum bangun tidur. Iya, ngulet-ngulet seperti ulet.

Sudah satu jam aku berada di sana. Saatnya pulang beli makanan pagi. Aku keluar taman, mengambil sepeda dan mengayuhnya ke arah pulang. Lalu mampir ke dua tempat yang menjual sarapan pagi. Aku beli dua macam makanan, danbing (baca:tanbing, sejenis kulit lumpia yang tebal nan gurih rasanya) dan sandwich isi keju plus sayuran.

Sampai kos, langsung buka komputer men-cek email-email yang ku terima sehari sebelumnya. Sambil makan pagi ditemani sarapan, aku browsing internet sebentar. Setelah habis, aku berniat membaca komik rentalan yang belum selesai dibaca (memang belum mulai baca, denk). Hari itu harus dikembalikan karena sudah telat sehari. Jadi aku membacanya terkesan seperti dikejar-kejar dateline. Belum lama membaca, mataku tiba-tiba diserang rasa kantuk ruarrr biasa. Jam di laptopku waktu itu sepertinya masih pukul 9-an (9.30an mungkin). Aku tidak kuat menahan kantuk saat itu, aku melipat bagian halaman yang tengah ku baca untuk menandai bacaanku. Tidurlah daku dengan pulas. Di tengah kepulasan tidur pagi itu aku bermimpi aneh…..benar-benar aneh…..

Kamu harus kuat, ya..

My day in Taiwan No Comments »

Rabu pagi, 15 Februari 2006. Ketika tugas jaga perpustakaan di kampus, datang kakak kelas perempuan orang Korea (satu angkatan di atasku) menyapa. Aku pun menyapanya. Kami hanya sering sapa-menyapa kalau bertemu, dan hampir tidak pernah mengobrol lama. Namun hari itu tidak biasanya. Dia duduk, kemudian menghela nafas panjang, tiba-tiba berkata :”Makalah mata kuliah Prof. Deng saya baru hari ini diserahkan, kamu tahu ngga ada satu makalah lagi yaitu makalah mata kuliah Prof. Lin sampai sekarang saya sama sekali belum mulai mengerjakan lho. Aduh gawat! Tadi waktu menyerahkan makalah di kantor saya ngga berani lihat orang di sekeliling, takut ketahuan dosen-dosen itu, jadi langsung pergi diam-diam”. “Hah! Ada masalah apa bisa tertunda sampai sekarang?”, aku balik bertanya (sebenarnya tidak perlu ditanyakan, karena di jurusanku fenomena telat menyerahkan makalah sudah sering terjadi dan lama-lama menjadi hal yang lumrah). Dia mulai cerita kenapa bisa seperti ini. Sebabnya heterogen. Salah satu alasan yang terpaksa membuat dia sama sekali belum menyelesaikan makalah adalah masalah keluarganya di Korea. Liburan kemarin dia sempat pulang ke korea selama kurang-lebih seminggu (atau 10 hari ya..lupa:P). Sewaktu pulang mungkin ada masalah keluarga yang mengharuskan dia berniat untuk ambil cuti setahun. “Cuti?” Iya, katanya. “Mungkin kalau tidak diperbolehkan cuti oleh sekolah, saya akan keluar sekolah. Daripada nanti pihak sekolah yang mengeluarkan saya, lebih baik saya duluan yang mengeluarkan diri dari sini” (sambil menunjukkan form pengunduran diri yang sudah disiapkannya). Aku kaget campur geli.“Hahaha”, kami tertawa kecil. Lucu. Begitulah persiapannya. Di tangannya sudah ada form pengajuan cuti dan form pengunduran diri untuk jaga-jaga, jika memang tidak disetujui ambil cuti, dia nekat ingin langsung mengundurkan diri. Unbelievable! Begitu terus terangnya dan percaya diri sekali dia. “Sedemikian gawatkah masalah itu, sampai-sampai perlu ambil cuti selama setahun?” Well, kalau cuti masih ada harapan untuk bisa kembali kuliah lagi. Tapi kalau keluar sekolah? “Kakak ngga merasa sia-sia oleh apa yang sudah dipelajari selama 3 semester ini? “Urusan keluarga bagi saya lebih penting daripada gelar pendidikan yang sedang saya tempuh sekarang. Saya pun rela mengorbankan kuliah dan waktu saya selama menuntut S2 di Taiwan untuk hal ini. Lagipula keluarga menginginkan saya pulang ke Korea. Jika masalah sudah selesai, mudah-mudahan saya bisa melanjutkan kuliah saya lagi, dan saat itu pasti saya sekelas dengan kamu. Jangan lupa untuk menegur saya tahun depan ya!. Tapi kalau memang ada hal yang mengharuskan saya berhenti kuliah, saya juga sudah siap”. Raut wajahnya terlihat sedih, tapi mencoba untuk tetap terlihat tegar. Dia bilang lagi, “Kamu di sini harus kuat ya, belajar S2 di Taiwan sangat capai, tidak mudah. Jangan seperti saya, kemampuan saya masih kurang. Beban terasa berat sekali. Lebih cepat memutuskan keluar lebih baik, ketimbang kuliah selalu sulit konsentrasi, jadinya seperti ini deh. Makalah keteteran. Saya butuh istirahat, lagipula keluarga sedang ada masalah”, dan seterusnya. Obrolan kami hari itu cukup lama dengan permasalahan yang mendalam pula. “Kakak sedang tunggu ketua jurusan yah?”, tanyaku. “Iya. Dengar dari sekretarisnya, siang ini mau datang ke kampus”. Kami ngobrol macam-macam. Dia sharing pengalamannya waktu masih tingkat satu dulu. Dari situ aku juga mulai tanya-tanya tentang karakteristik mata kuliah wajib dan sifat dosen-dosen yang belum pernah aku dapat. Dengar dari penuturannya, aku memperoleh gambaran bahwa semester ke-2 yang sebentar lagi mulai, tepat senin depan tanggal 20 februari, ada mata kuliah wajib yang lebih berat dibandingkan semester satu, dosen pengajarnya pun lebih ketat dalam hal absensi (tentang absensi insyaAllah tidak ada halangan). Ngga lama kemudian, ada yang datang mengabarkan bahwa ketua jurusan sudah datang. “Saya pergi dulu ya..aduh..gugup nih, gimana ya kalau ngga disetujui”. Beberapa menit kemudian, dia datang lagi. Mukanya terlihat seperti terharu, seperti ada isak tangis sebelumnya. “Bagaimana?”, tanyaku. “Bisa cuti, kok. Beliau bilang saya harus sering kasih kabar ke jurusan. Saya sudah cerita masalah keluarga saya”. Tampaknya ketua jurusan kami cukup memahami masalahnya, sehingga begitu cepatnya menyetujui ia cuti. Walaupun di pikiranku masih banyak tanda tanya tentang problemnya yang membuat penasaran. “Saya pergi, ya..mau kasih surat ini ke bagian registrasi. Sampai ketemu tahun depan. Dan jangan lupa untuk menyapa saya kalau kita sekelas nanti!”, katanya ceria. “Oke, semoga masalah kamu lekas selesai. Jiayou!!”. Dia pun pergi melangkah meninggalkan perpustakaan tempat aku jaga.

Huih! S2 di sini benarkah sesulit yang dia katakan? Bahkan orang Taiwan pun beranggapan sama. (pertanyaan yang retoris ya..jelas-jelas sudah berlalu satu semester, masih belum sadar, hehe..) Menurutku belajar tidak ada yang mudah, karena semua berawal dari ketidaktahuan menjadi tahu. Hambatan biasanya terletak pada bagaimana sikap kita ketika menghadapi proses untuk menjadi tahu.

Ternyata di dunia ini bukan cuma daku yang memiliki masalah. Manusia, dari awal ia dilahirkan hingga setelah mati pun mempunyai masalah. Namun, kita yakin setiap masalah memiliki solusi. Banyak cara untuk mengatasi kesulitan yang ada, tinggal manusia itu yang memilih, bersikap sabar serta ikhlas untuk segala resiko yang muncul. Pengorbanan pun kadang diperlukan dan menjadi pilihan agar masalah dapat cepat terselesaikan.

Aku ingat perkataannya tadi yang berbunyi “kamu harus kuat, ya” (tapi dia pakai versi Mandarin :p). Perkataannya seolah memberi kesan sebuah nasehat yang membuatku sadar akan kemampuan sendiri, seperti hendak mengingatkanku sebelumnya untuk mampu bertahan jika nanti aku mengalami hal serupa yang dia alami sekarang (Ya Allah, ringankanlah dan ridhoilah segala urusan yang akan dan telah aku jalankan). Suatu kesan peringatan—lebih pas—nasehat dini yang dilontarkan oleh seorang kakak kelas yang tengah merasakan pahit getirnya kuliah di sini, serta jauh dari keluarga. Aku membatin, semoga di waktu mendatang kita bisa bertemu lagi dan mengobrol seperti ini lagi. Terus terang, kami hanya kenal raut muka tidak tahu nama. Sering bertatap muka, tapi tidak pernah bercakap-cakap seakrab ini. Aku sendiri baru tahu nama marganya ketika dia minta bantuanku untuk men-cap logo perpustakaan jurusan di form cutinya. Dia juga memanggil aku cukup dengan panggilan “adik kelas” (bagi kakak kelas yang kurang tahu nama adik kelasnya biasanya cukup memanggil sebutan ini. Aku pun begitu. Jika tidak tahu nama kakak kelas, biasanya memanggil dengan sapaan “kakak kelas” saja. Selain itu, panggilan semacam ini termasuk praktis, tidak peduli kenal nama atau tidak, kami sering begitu. Semacam gaya bahasa juga. Masih ingat kisah silat Cina? Panggilan semacam ini juga ada dengan sebutan “kakak seperguruan” dan “adik seperguruan”).

Alhamdulillah, hubungan antara senior dan junior di jurusanku cukup akrab dan kami semua saling membantu sama lain (kecuali pas mengerjakan makalah dan waktu ujian aja :)).

Terima kasih Tuhan telah mengkaruniaiku orang-orang dan teman-teman baik untuk berjuang menjalani hidup di negeri ini..

Erna,

Taipei’06

Gigi

My days in Taiwan Island No Comments »

*note : ngga ada hubungan sama Gigi Band ..XD

Waktu konsultasi tentang kartu asuransi yang bermasalah di sekolah bagian kepengurusan asuransi mahasiswa asing, Ibu yang mengurus sempat tanya, "kenapa gigimu?" Ku bilang, " kalau saya bisa tahan sakit gigi ini ngga mungkin saya ke dokter gigi tanpa kartu asuransi. Tapi saya sudah ngga tahan karena rasanya ngilu, mau ngga mau harus ke dokter walaupun kartu asuransi belum keluar". Biasanya hanya cukup bayar biaya registrasi, tapi ini harus biaya pengobatannya karena kartu asuransi belum ada. Tapi itu tidak seberapa dibanding harus menderita gara-gara sebuah gigi yang sakit. Setelah dapat kartu asuransi, langsung lega karena bisa periksa lebih murah. Tapi katanya kartu itu baru bisa aktif setelah tanggal satu januari. Oleh karena itu, masih buat janji lagi dengan dokter untuk tanggal dua januari. Hasilnya masih belum aktif juga. Jadinya harus membayar uang periksa lagi.

Hari itu aku mengeluhkan kartu asuransi yang katanya sudah bisa aktif tapi tidak bisa dipakai saat berobat. Si Ibu menelpon ke pihak asuransi untuk menanyakan kenapa kartu asuransiku pada tgl 2 januari belum bisa dipakai, setelah tutup gagang telpon itu ia bilang: "Sekarang kartu asuransimu sudah bisa dipakai. Waktu itu belum diaktifkan,  jadi kamu belum bisa pakai untuk periksa., mereka bilang tanggal 4 baru diaktifkan. Kamu masih harus periksa gigi lagi?". " Iya, masih ada sekitar 7-8 buah gigi yang mesti diperiksa mencegah gigi berlubang (padahal sudah ada satu gigi yang lubangnya melebar mirip kawah)". Ibu itu lalu bilang dan menyarankan supaya “beli” gigi baru saja. “Ganti saja giginya dengan yang baru. Murah kok, hanya 6000 NT satunya. Kalau dipasang ngga terlihat tiruan, tapi seperti warna gigi asli lainnya”. Alami maksudnya. Mendengar itu, aku ngga terpikir mau cabut gigi terus pasang yang baru, kecuali memang sudah mengganggu fungsi mengunyah makanan mungkin bisa dipertimbangkan. But, no dech, Terimakasih xiexie. Memang menurut dia murah, “cuma” 6000 NT (sekitar 1,8 juta rupiah). Baru satu gigi sudah segitu, gimana kalau ada 8 gigi, apalagi gigi manusia dewasa itu jumlahnya 32. Wah kalau dihitung secara matematis, ternyata seluruh gigi asli kita seharga (tunggu, cari kalkulator dulu) ……

192000 NT (kira-kira 57,6 juta rupiah).

Subhanallah!! Itupun masih pakai standar harga termurah (menurut Ibu tadi). Wow! Cukup untuk bisa membeli sebuah Starlet second. Ck..ck..ck Itulah berharganya ciptaan Tuhan, nilainya tidak bisa diukur dengan materi meskipun diganti dengan tiruan semahal apapun, karena pasti akan terasa beda nikmatnya dibanding dengan ciptaanNya yang begitu sempurna. Anugerah gigi dalam mulut kita saja sudah begitu mahalnya, belum organ tubuh yang lain. Subhanallah!!

So, hikmah dari pengalaman ini yaitu bahwa setiap manusia wajib selalu bersyukur akan karunia Allah. Manusia sudah diciptakan sedemikian sempurnanya, pun terkadang masih merasa kurang. Hendaknya apa yang sudah diberi oleh Allah dapat kita rawat dan pelihara, karena itu salah satu wujud syukur kita terhadapNya. (Ya Allah, maafkan aku yang kurang menyukuri nikmat Mu). Kalau sudah terjadi biasanya baru muncul penyesalan. Baru gigi yang sakit, belum penglihatanku yang minus ini. Hixx….hati hanya mampu berandai “andaikan dari dulu tahu repotnya bermata minus, mungkin sekarang tidak pakai kacamata, dan tidak perlu bayar mahal ke dokter gigi, dan lain-lain”. Bagaimanapun juga sekarang masih ada kesempatan  mencegah bagaimana supaya tidak bertambah buruk, di samping terus memelihara dan merawatnya. Berharap itu bisa mengingatkanku untuk tetap bersyukur terhadap segala sesuatu ciptaanNya.
ps: Bagi yang giginya masih bagus, pertahankan. Kalau sudah ada yang berlubang, ya mau diapakan lagi. Paling juga harus ditambal, terus berusaha supaya gigi sebelahnya ngga tertular berlubang hihihi..

Amien

Kupu-kupu Malam

Music No Comments »

Kupu-kupu malam

Lyrics: Titiek Puspa

By : Peter Pan

Ada

yang benci dirinya

Ada

yang butuh dirinya

Ada

yang berlutut mencintainya

Ada

pula yang kejam menyiksa dirinya

Kini hidup wanita si kupu-kupu

malang

Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga

Bibir senyum kata halus merayu memanja

Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan

Sucikah mereka yang datang

Kadang dia tersenyum dalam tangis

Kadang dia menangis di dalam senyuman

Ohhh..apa yang terjadi, terjadilah

Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya

Ohhh.. apa yang terjadi, terjadilah

Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

the song’s streaming

Fearless

Film No Comments »

Intro : Walaupun usianya tahun ini mendekati 43 tahun, sudah ngga semuda dulu waktu main film kungfu shaolin, tapi wajah yang penuh smile itu tetap kelihatan fresh (from oven kali).
Gue nonton film ini sendiri karena berhubung tidak ada teman Indo yang ingin nonton di bioskop (ga tertarik krn film pakai teks n berbahasa mandarin). Ada teman Taiwan yang berbaik hati menawarkan diri untuk nemanin, tapi karena waktu yang mendesak (lebih cepat nonton lebih baik) dan karena mereka masih dalam liburan di kampung halaman masing2, jadi berangkatlah daku menuju Living Mall. Kalau biasa di Mal-mal Jakarta bioskop itu berada di lantai paling atas, beda dengan Living Mall, bioskop justru ada di lantai basement (B17)..pantes udah naik sampai lantai 4 atas ngga ada tanda-tanda cinema, tahunya di bawah. Huih..Alhamdulillah sempat beli yang pkl 11.40 (padahal belinya sdh pkl.11.49). Pas masuk Hall 6 ternyata belum mulai, alias masih iklan :p

Hmmm..pengalaman pertama nonton film di bioskop alone. Mau tahu rasanya? besok coba aja pergi sendirian ke bioskop terdekat…:)
He7x..gue mah asyik2 aja..wong gue sendiri yang ngotot mau nonton ntu film..kalo gini kan sdh lega.

Sabtu siang pukul 11.55 waktu Taipei, tepat film Fearless atau Huo Yuanjia (judul dalam Mandarin langsung menyebut nama tokoh utama film itu) diputar di bioskop Cinemark Living Mall (Jing Hua cheng). Sepuluh menit sebelumnya waktu beli tiket seharga 230 NT, tanpa antrian panjang, agak bingung mesti masuk ke ruangan mana. Maklum, terakhir kali datang ke sini sudah hampir 3 tahun yang lalu. Akhirnya bisa juga nonton tepat waktu walaupun di tiket ditulis pukul 11.40, tapi biasanya muncul film-film iklan dulu sebelum film utama. Ya, dulu pertama kali datang ke pulau ini, pernah nonton sekali di bioskop ini bersama teman-teman ekskul kungfu. Waktu itu kita nonton Charlie’s Angel 2. Kali kedua datang ke pulau ini, Fearless jadi film pertama yang gue tonton sejak lima setengah bulan datang ke Taipei.

Huo Yuanjia yang diperankan Jet Li merupakan tokoh legendaris Cina awal abad 20. Ia jago beladiri wushu, sering bertanding demi mendapatkan piagam juara satu se-Tianjin yang tak terhitung berapa kali jumlahnya. Film ini didominasi oleh duel-duel antara Jet Li dan tokoh lawan mainnya. Iyalah, wong aktornya aktor laga, kalau temanya dramatis mendayu-dayu bukan film khas Jet Li donk :p

Kesan setelah nonton film ini, sebenarnya kalau dilihat dari segi cerita, jangan berharap dapat alur cerita yang sempurna, karena hampir seluruh cerita diwarnai pertarungan Jet Li dalam duel pertandingan yang ada di jaman itu. Intinya kalau sedang lihat film-film Jet Li, lihatlah akting beladirinya. Itu yang sudah pasti top. Kalau isi cerita, banyak nilai-nilai yang bisa diambil terutama pemahaman dan karakter yang harus dimiliki seorang ahli wushu ketika mengikuti sebuah kompetisi beladiri. Apa sebenarnya yang mendasari seseorang berlatih wushu?Jet Li berucap ada tiga hal penting makna latihan wushu : melatih tubuh, melatih akal pikiran dan melatih moral.

Pertarungan-pertarungan awal yang diikuti Huo Yuanjia waktu ia belum menemukan makna kompetisi beladiri sesungguhnya, cuma didasari atas ambisi dan ego balas dendam. Setelah keluarga yang dicintainya dibunuh akibat sikapnya yang ceroboh dan melebihi batas hanya demi membalas dendam muridnya, dia mulai sadar bahwa kebencian dan dendam tidak akan ada akhirnya, orang yang dicintai pun bisa jadi korban.

Akhirnya, ia terdampar di suatu daerah (kurang jelas maksudnya kenapa mesti ada cerita terdampar di perkampungan. Karena di situ yang menonjol cuma kisah Jet Li n aktris cantik yang berperan sebagai cewe tunanetra). Habis terdampar, dia balik ke daerah asalnya lagi untuk mengunjungi makam keluarganya, pun sempat mengunjungi keluarga almarhum lawannya yang meninggal di tangannya dulu.

Yang biasanya dulu kalau habis menang tanding dan waktu menjamu tamu minum arak, setelah balik Huo Yuanjia jadi lebih suka teh (hmmm..cara mengganti kebiasaan yang bagus bagi mereka yang biasa minum arak). Ada lagi yang bisa diambil maknanya waktu nonton film ini. Yaitu setiap kompetisi beladiri tidak ada tingkatan tinggi dan rendah, tidak ada kalah dan menang, tidak ada kuat dan lemah, hanya kita saja yang membuat standarisasi seperti itu. Pertandingan beladiri sebenarnya untuk mengukur dan mengenali kelemahan diri sendiri, bukan mencari kelemahan lawan, karena musuh terbesar ketika bertanding adalah bagaimana mengendalikan ambisi pribadi.

Oh ya, waktu kecil Jet Li punya teman seperjuangan yang dihutanginya waktu traktir pesta arak di kedainya. Di pertandingan terakhir kali, ia sempat meminjam uang sama temannya itu. Temannya seorang pengusaha, dulu sering berkali-kali mengingatkan Huo Yuanjia agar tidak perlu bertarung demi menjadi jawara nomor satu. Namun, kali ini ia berani meminjamkan uang karena pertarungannya membawa nama bangsa Cina di mata dunia. Huo Yuanjia terakhir bertanding dengan seorang ahli beladiri Jepang yang pernah menjamunya.

Ada salah seorang Jepang yang bertaruh bahwa jawara Tianjin itu akan kalah, kemudian mencoba memberikan racun dalam minuman Huo Yuanjia. Walaupun demikian, sang lawan yang mengetahui keadaan Huo Yuanjia sudah payah dan bisa saja dia membunuhnya dalam sekejap, dengan hati seorang petarung sejati dia mengaku kalah, dan Huo Yuanjia pun tetap dianggap sebagai pemenang di kompetisinya yang terakhir. Film berakhir. Muncul teks yang mengisahkan Huo Yuanjia meninggal ketika dibawa di rumah sakit, dan lain-lain (ngga sempat baca satu persatu karena kemampuan bahasa mandarin yang terbatas). Melihat adegan senyuman khasnya yang masih kelihatan selesai bertarung, hmm… Cool guy, nice guy. Senyum dong, say..yur…:D

Jet_li_lian_jie_1

Fearless1
Fearless


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in